Ukhuwah Menjanjikan Kemenangan

Pemillihan Umum (Pemilu) 2014 masih empat tahun lagi. Namun gerakan untuk menjegal partai-partai Islam sudah kencang didengungkan. Dengan sistematis dan siasat bulus, mereka berusaha keras agar partai-partai Islam absen manggung di pentas Pemilu 2014.

Gerakan licik itu terbaca jelas dari proses pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) yang terkait dengan pelaksanaan pemilu 2014. Di mana partai-partai besar bergaris ideologi nasionalis sekular ngotot menaikkan parliementary threshold (PT) pada Pemilu 2014 menjadi lima persen.

Sudah dapat ditebak, jika usulan PT lima persen ini gol dan dijalankan, maka partai-partai Islam dan bermassa Islamlah yang akan banyak dirugikan. Dengan ketentuan ini hampir semua partai Islam tidak akan dapat lolos karena perolehan suaranya tidak lebih dari lima persen.

Itu artinya, kaum Muslimin yang merupakan mayoritas di negeri ini benar-benar diberangus habis. Umat Islam tidak lagi memiliki keterwakilan di negeri ini karena tak satupun partai Islam yang tampil pada Pemilu 2014.

Jika skenario ini berjalan, bukan tidak mungkin malapetaka dan tragedi politik terhadap umat kembali akan terjadi. Parlemen yang semuanya diisi oleh para elit politik partai nasionalis sekular akan membuat legislasi yang merugikan umat Islam.

Pada akhirnya, umat Islamlah yang akan menerima pil pahit. Kecurigaan berlebihan kepada umat seperti di masa Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto, bukan tidak mungkin pula terjadi. Di mana negara memarjinalisasikan kaum Muslimin karena alasan-alasan tidak rasional dan penuh dengan kecurigaan. Umat Islam dianggap kaum pemberontak dan pengacau.

Padahal, sejarah mencatat sebaliknya. Dengan darah dan air mata perjuangan umat Islamlah, negeri ini lepas dari penjajah. Dengan diplomasi dan sumbangan pemikiran tokoh-tokoh Islam pula, negeri-negeri dunia mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat.

Tidak salah jika negeri ini berutang budi pada kaum Muslimin. Jika dilihat dari kaca mata demokrasi, usaha mereka menutup pintu bagi partai-partai Islam untuk tampil di pentas Pemilu 2014 pun tidak demokratis.

Jika kaum nasionalis sekular konsisten dengan nilai-nilai demokrasi yang mereka anut selama ini, seyogianya mereka memberikan peluang partisipasi partai-partai Islam sebagai representasi dari umat untuk ikut terlibat dalam proses penyelenggaraan negara. Bukan malahan dijegal dan ditutup rapat.

Fenomena ini tentu bukan untuk diratapi, apalagi disesali. Namun, untuk dihadapi dan dicarikan jalan keluarnya. Bagi umat Islam, khususnya para elit politik, inilah saatnya untuk merapatkan barisan umat menghadapi siasat licik mereka.

Saatnya pula bagi umat untuk mengedepankan persamaan ketimbang perbedaan yang ada. Jika ditelisik lebih jauh terlalu banyak persamaan umat, ketimbang perbedaan. Sungguh tidak masuk akal menyingkirkan persamaan yang begitu banyak dengan perbedaan yang sangat sedikit.

Kegembiraan kaum Muslimin sungguh tak terkira melihat para pemimpin umat bersatu, duduk bareng satu meja membahas berbagai problematika yang ada. Namun sebaliknya, kesedihan umat tak terperi menonton para pemimpinnya saling gontok-gontokan, beradu tinju satu sama lain hanya karena mempertahankan ego masing-masing.

Sungguh sikap para the founding father umat negeri ini, patut ditiru. Berbeda garis politik dan pemikiran, tidak membuat mereka saling sikut-sikutan satu sama lainnya. Kepentingan umat dan Islam tetap mereka kedepankan.

KH Hasyim Asy’ari yang berasal dari Nahdlatul Ulama (NU) dapat duduk satu meja dengan M Natsir yang berasal dari Persatuan Islam (Persis) dalam membahas persoalan umat. Perbedaan keduanya bukan berarti tidak ada. Namun perbedaan sikap politik tersebut, tidak lantas membuat keduanya tidak saling bertegur sapa satu dengan lainnya.

Ingatlah dulu ketika kaum Muslimin menghadapi dunia dalam satu barisan dan satu hati di bawah naungan ukhuwah yang benar. Maka hancurlah kekuatan Romawi dan Persia yang sangat memusuhi Islam saat itu.

Sebaliknya, saat umat ini bercerai-berai dan dihinggapi ambisi, sikap rakus serta nikmat dunia, maka hancurlah kekuatan mereka. Musuh dengan mudahnya akan melenyapkan mereka. “Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, akan gentar dan hilang kekuatan kalian. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (al-Anfal-46). (Rivai Hutapea)[sabili.co.id]
telegram