Gerakan Dakwah Sekolah dalam Menangkal Isu Radikalisme


Rohis sebagai instrumen pendidikan Islam di lingkungan sekolah kini telah menjamur di berbagai sekolah. Di awal pembentukannya sekitar era tahun ‘80an hingga saat ini telah sukses melahirkan banyak orang yang mampu berkontribusi di masyarakat dengan tetap mempertahankan karakter keislaman yang baik. Alumni Rohis ini tersebar di berbagai lini masyarakat seperti menjadi dokter, ekonom, sastrawan, peneliti, seniman, guru, wirausaha dan lain-lain.

Rohis selalu menekankan islam sebagai pendidikan karakter para binaannya. Melalui kegiatan mentoring yang ada hampir di setiap sekolah menjadi semacam kuliah intensif bagi para aktivis rohis untuk lebih memperdalam pengetahuan keislaman mereka. Melalui kegiatan keorganisasian yang berkembang di Rohis, para aktivis Rohis diajarkan memenejerial sesuatu. Training-training dan pembinaan akademik yang juga sering kali diisi oleh para alumni menjadikan para aktivis Rohis mampu bersaing dengan temannya yang nonRohis di sekolah.

Di bidang seni pun tak lupa Rohis memberikan alternatif seni yang islami, seperti nasyid dan teater islami. Secara siginifikan beberapa rohis mampu merubah keadaan sekolah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun sayang, karena ulah beberapa gelintir gerakan islam radikal dan permainan media yang terlalu berlebihan. Rohis hari ini mulai tersudutkan oleh berbagai pemberitaan media mengenai gerakan islam radikal seperti gerakan Negara Islam Indonesia (NII) KW IX dan gerakan terorisme. Media lebih banyak mengungkap jika gerakan islam radikal ini sekarang banyak digerakkan oleh kaum muda khususnya akademisi seperti para pelajar. Gerakan islam radikal diisukan banyak mengkader banyak anggotanya melalui kegiatan ekstraklikuler Rohis ini.

Isu ini pun diperkuat oleh beberapa statement para ahli dan penelitian serta survei berbagai lembaga penelitian –yang walau masih bisa dipertanyakan keilmiahannya tapi cukup mengefek pada opini masyarakat-.
Seperti pernyataan Sidney Jones, pakar terorisme internasional, yang mengatakan kegiatan di lembaga Rohis bisa menjadi pintu masuk virus terorisme di wilayah SMP atau SMA.

Lalu Studi Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang digelar Oktober-Januari 2011 menunjukkan sekitar Mayoritas pelajar di Jakarta dan sekitarnya ternyata cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah agama dan moral.

Studi ini jelas-jelas mempersepsikan bahwa kebanyakan pelajar muslim yang loyal pada agamanya menyetujui gerakan islam radikal. Dan kebanyakan pelajar ini berada di lingkungan Rohis. Sehingga masyarakat memiliki persepsi jika Rohis pun ikut menyetujui gerakan islam radikal ini.

Memperbaiki opini masyarakat atas Rohis

Rohis sebagai sebuah kumpulan para pelajar yang selain baik akhlaknya juga cerdas haruslah bersikap bijak dalam menaggulangi citra buruk yang sekarang banyak disematkan masyarakat terhadap dirinya.

Kader-kader Rohis dari sekarang harus mulai memberikan pengertian kepada masyarakat khususnya orang-orang terdekat mereka seperti keluarga dan sekolah bahwa Rohis bukanlah sarana pengkaderan gerakan islam Radikal. Kader Rohis juga harus mulai menanggalkan citra ekslusif yang sering kali melekat karena kurang pergaulannya dengan teman-teman yang lain. Ikut membaur sebagai pelajar tapi tidak melebur sebagai kader dakwah.

Rohis pun harus mampu memerankan peran penting dalam kegiatan di sekolah seperti dalam prestasi akademik dan nonakademik, sehingga nantinya muncul persepsi positif dan menggeser persepsi negatif tadi di kalangan masyarakat.

Lalu yang sering kali menjadi polemik adalah acap kali kader Rohis memberikan pengertian mengenai jihad yang bukannya salah, hanya saja sering kali tidak dimengerti dan menimbulkan persepsi yang salah bagi orang lain. Jika memang tidak terlalu perlu, hindarkan pembicaraan mengenai konsep jihad maupun gerakan islam jika memang dirasa banyak membawa sisi negatif dalam persepsi orang tersebut.

Alumni serta Pembina Rohis haruslah memberikan pengertian yang jelas mengenai isu-isu kekinian islam sehingga kader-kader Rohis pun tidak ikut larut pula dalam opini-opini negatif ini.

Peran Organisasi Eksternal Dakwah Sekolah

Belajar dari revolusi jilbab yang terjadi sekitar tahun 80-90an dimana saat itu banyak para siswi muslimah berjilbab yang mengalami diskriminasi karena pandangan negatif masyarakat mengenai jilbab atau kerudung yang masih baru kala itu. Seperti munculnya isu negatif yang populer kala itu bahwa wanita berjilbab atau berkerudung seringkali menebar racun di pasar-pasar dan isu-isu negatif lainnya. Peran organisasi eksternal dakwah sekolah amat dibutuhkan saat itu, sehingga Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai organisasi ekternal dakwah sekolah kala itu mengeluarkan pernyataan dan melakukan dialog advokasi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sehingga munculnya SK no 100 tahun 1991 yang mampu mengakomodir sisiwi-siswi muslimah yang ingin berjilbab.

Lalu kita dapat belajar pula dari Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) sebagai gerakan eksternal dakwah sekolah pada tahun 2000an awal menanggapi permasalahan yang sering kali terjadi di Rohis-rohis sekolah khususnya mengenai harusnya menanggalkan jilbab dalam foto ijazah. KAPMI kala itu mampu mendesak pemerintah untuk diperbolehkannya pemakaian jilbab dalam ijazah.

Kini, ada banyak gerakan dakwah sekolah eksternal dakwah sekolah –dalam arti gerakan dakwah sekolah yang tidak secara direct di lingkungan sekolah- seperti forum-forum Rohis dan paguyuban-paguyuban rohis lainnya yang ada di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Seharusnya gerakan-gerakan dakwah sekolah eksternal ini mampu diberdayakan sebagai sebuah kekuatan kesatuan para kader Rohis untuk berperan menanggulangi isu-isu negatif yang berkembang saat ini. Gerakan eksternal dakwah sekolah kontemporer sekarang dapat melakukan persamaan sikap dulu di kalangan Rohis. Lalu setelah kesamaan sikap didapatkan, gerakan eksternal dakwah sekolah ini mulai melakukan penggiringan isu ke arah yang lebih baik dengan cara edukasi masyarakat untuk tidak menyamakan Rohis dengan tempat pengkaderan gerakan islam radikal. Pengedukasian ini bisa berupa pengiriman surat, tulisan dan pernyataan sikap gerakan eksternal dakwah sekolah ini ke media-media yang ada untuk menunujukkan Rohis sesungguhnya. Atau dengan melakukan dialog langsung dengan tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh. Bisa juga dengan kampaye damai di jalan jika dirasa perlu.

Isu-isu negatif yang berkembang saat ini jelas sangat merugikan Rohis dalam geraknya terutama pengkaderan yang sebentar lagi akan dilaksanakan dalam proses penerimaan siswa baru. Maka itu, perlu segera diperbaiki isu-isu yang berkembang saat ini. Agar nantinya Rohis mampu menjalankan pengkaderan dengan baik dan semestinya. Karena bagaimana pun Rohis hampir menjadi satu-satunya alat pendidikan nonakademik bagi siswa-siswi di sekolah yang ingin memperdalam agamanya.

Elam Sanurihim Ayatuna
Penulis adalah ketua divisi operasional Forum Silaturahim Rohis (FORTRIS) Jakata dan juga pengurus Forum Aktivis Rohis (FARIS) Tangerang. Pernah menjadi ketua Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) Daerah Jakarta Barat dan Ketua Rohis SMA N 112 Jakarta
telegram