Inilah Modus Pemurtadan di Sekolah Non-Muslim

Bismillah. Assalamu’alaikum.

Sebagian muslim korban pemurtadan dilatari oleh kesalahan orangtua mereka mnyekolahkan/menguliahkan anaknya di sekolah/kampus non-muslim – tapi sekolah/kampus umum/negeri yang heterogen juga cukup kondusif terhadap gerakan pemurtadan.
Sejak di bangku sekolah/kuliah ini pergaulan si calon korban ‘dilingkari’ atau diisolasi, hingga tanpa sadar nyaris semua teman dekatnya adalah non-muslim, sementara teman2 muslimnya kian sedikit – mereka menyingkir sebab jengah dgn kecenderungan korban yang kian intim dgn non-muslim.

Lambat laun, sejatinya dunia si korban kian senyap dari muslim, seiring dgn menguatnya lingkaran non-muslim. Kepada korban lalu scr terus-menerus diperdengarkan/diperlihatkan pencitraan-pencitraan buruk thdp muslim dan islam untuk menghancurkan akidah dan kebanggaannya sebagai muslim.

Ketergantungan mental kian menguat dengan si korban dibikin bergantung secara ekonomi pula, dgn membantunya masuk ke lingkungan kerja mereka pasca si korban lulus sekolah/kuliah. Tampaknya ini budi baik, padahal ini settingan juga untuk memudahkan mereka secara berkesinambungan dan sinergis ‘menggarap’ si korban.

Semua kebutuhan dan aktivitas korban – kemana bersenang, kemana curhat dan menyandarkan kepercayaan, juga buku dan media apa yang dibaca/dilanggan – tidak lepas dari kontrol mereka. Sampai kepada jodoh pun, non-muslim akan menyiapkan siapa yang akan didekatkan padanya, dengan ‘tugas’ menjalin hubungan yang bisa sangat jauh demi ‘mengikat’ si korban.

Sampailah pada 1 titik klimaks, mereka tinggal menuai hasil: si korban masuk agama mereka atau tidak. Dlm kondisi terisolasi yang parah, si korban biasanya tidak bisa keluar dari lingkungan mereka dan merasa tidak punya pilihan selain pindah agama. Kepada korban yang melawan, bisa saja dianiaya, bahkan dibunuh – entah karakternya saja, entah sekalian jiwanya.

Tapi pindah agama tidak selalu menjadi tujuan akhir mereka. Dlm kondisi mental-spiritual si korban sudah hancur-hancuran – meskipun status formal di KTPnya tetap islam, ia bisa saja dibiarkan/dipelihara. Boleh jadi ia memang sekadar tujuan antara untuk melicinkan jalan menggarap target sebenarnya: anak-anak si korban. Kehancuran akidah yang melicinkan jalan mereka itu, ditandai dengan disfungsi alfurqon – kehilangan fungsi untuk membedakan: halal-haram, mulia-hina, pahala-dosa, syirik-tauhid, haq-bathil, adil-zhalim dan kekacauan dalam menyandarkan persaudaraan.

Di antara ciri permukaannya adalah: menggampangkan perbuatan dosa, melalaikan sholat, memelihara anjing, tidak berhati-hati dalam makan-minum (tidak peduli halal-haram), gemar berdusta, cenderung hedonis, gemar memutuskan silaturohim dengan sesama muslim, bercurhat-berpeluk-bertangisan dengan non-muslim, dsb.

Ada lagi katagori lain yang dipelihara, adalah mereka yang menjalani islam sekadar formalitas-reduktif, sebagai sekadar ritual. Mereka ini rajin beribadah, tetapi membunyikan ayat-ayat tak ubahnya dukun yang membaca mantra-mantra, atau orang mabuk yang bicara tanpa kesadaran tentang makna dan tugas-tugas di dalamnya. Mereka tidak peka, bahkan tidak mau tahu, masalah umat. Mereka dipelihara sebab menguntungkan – nama dan performanya ‘dijual’ untuk pencitraan dan ‘tameng’ lembaga-lembaga laba milik non-muslim yang mempekerjakan mereka. Adakalanya nama mereka sangat islami: ahmad, muhammad, sholeh, zulkifli, dsb.

Demikian, semoga dapat dipetik hikmahnya.

Ahmad Antawirya
telegram