Semua Indah Dalam Rambu-Nya

Senyumku jadi mengecut, pakaian terusan (gamis) kesayanganku, si coklat berbunga gelap itu malah terus-menerus jadi perhatian orang sekitar. Awal spring identik dengan baju terusan, tapi bukan yang menutup aurat, biasanya yang ‘lagi in’ adalah baju terusan berbunga dengan bahan ketat dan tanpa lengan alias bagian ketiak terlihat, githu lho.

Oke, please, nurani…bisikku, tetaplah husnudzon, anggaplah memang orang-orang kafir sekitar sini kebetulan memang tak pernah melihat muslimah, tak punya uang untuk jalan-jalan sampai bisa mengunjungi Indonesia dan negara bersiram mentari lainnya. Namun bukan itu yang membuatku kesal, hari ini sudah hampir sore dan diriku belum makan siang padahal sedang hamil tujuh bulan, dan ingin bergegas mampir membeli roti di kedai, namun aduuuh, tiba-tiba selangkah sebelum memasuki kedai, ada dua petugas berbaju ‘sok sexy’ (yang perempuan) dan ‘sok macho’ (yang laki-laki) mendekatiku, dengan memandangku curiga mereka bermaksud memeriksa kartu identitasku. Sedih juga, Ya Robbi, rezeki makan siangku dan anak-anak tertunda lama, bisik hatiku lagi.

Beberapa kali suamiku mengingatkan, “Tetap ceria, donk sayang… kan udah lama di luar negeri, udah tau lah kamu banyak hal seperti ini. Kadang-kadang memang nyebelin kalau di kota kecil macam Krakow saat berjumpa petugas imigrasi yang memeriksa, system ngeceknya masih manual, yah mengganggu jadwal waktu aktivitas orang lain, namun kan tetap ada sisi baiknya, mereka meriksanya resmi dan gak pakai cara-cara minta uang rokok kayak di negeri antah berantah, hehehe, apalagi sekarang kan makin banyak petugas yang jadi kenal kamu, bahwa ada seorang muslimah Indonesia dan yang paling sering beredarnya di wilayah old town sini…”, hibur pangeran hatiku tersebut.

Sipitnya mataku memang dengan mudah dikenali, ciri paling berbeda dengan orang lokal sini. Tambah lagi, dua hari lalu aku jatuh terpeleset, lebam-lebam di tubuhku termasuk bagian muka di kelopak mata kananku. Si dua petugas itu terlihat makin curiga, lekat-lekat menatapku, apalagi di lembar-lembar passport dan kartu identitasku memang tak ada foto yang menampakkan rambut dan telinga (seperti aturan kuno biasanya), semua pas foto yang terpasang selalu kelihatan muka doang. Setelah mendengar pembicaraan mereka dengan bahasa Polish tentang kecurigaan kepada umat muslim (yang merupakan saudara-saudariku, yang difitnah sebagai teroris dalam media-media barat), apalagi system kuno mereka dalam mengkonfirmasi kartu identitas harus menanti lebih dari 30 menit—menelepon ke sana-sini, maka keramahan memudar dari wajahku. Sosok kafirin di hadapanku itu adalah contoh nyata kaum yang melakukan diskriminasi, terutama terhadap busana kaum muslimah.

Seraya mengingat-ingat, sister kita di sebuah kota kecil, di Amerika, pernah pula akhirnya memutuskan untuk membuka hijabnya, atas izin suaminya, (astaghfirrulloh…) sebab ada tekanan lahir bathin yang teramat keras dari kaum kafir sekitar mereka, akhirnya setelah ribuan kali berpikir ulang, maka dilepasnyalah identitas kemuslimahannya tersebut. Yah, sebetulnya itulah tujuan kaum islamofobia atau sosok-sosok yang memerangi umat Islam lainnya, sasaran paling mujarab adalah para muslimah berhijab, akan selalu dibuat tidak tenang, tidak nyaman, diremehkan, direndahkan, dibuat sakit hati yang dikaitkan dengan penampilan ‘menutup aurat’ tersebut, agar sikap istiqomah menjadi goyah, agar mau bertekuk lutut di hadapan mereka. Agar mau sama hinanya dengan penampilan mengumbar aurat yang mereka katakan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tinggi, ‘explore penampilan’ se-eksotik mungkin. Naudzubillahi minzaliik.

Dan di era yang makin maju ini, ternyata tetap banyak muslimah yang tertipu daya, tak sadar akan tingginya kemuliaan diri dalam Islam, sehingga tak menyadari pula saat terbawa oleh buaian manis ‘kesuksesan berkarir’ yang dielu-elukan sebagai kampanye para pengikut setan tersebut, antara lain kesuksesan wanita mereka ukur dari keahlian menggoda pria, tampilan zahir menonjol dan lekuk-lekuk yang harus dipertontonkan, kecantikan fisik menjadi kriteria utama, kesempurnaan dandanan dengan kosmetika bermerk terkenal, perawatan kuku dan mewarnainya sesuai warna busana (kalau di Krakow, nenek-nenek pun hobi mewarnai kuku, juga pakai glitter lho…) dan sejenis itu, bahkan ada acara televisi (di Eropa ini), yang mana acara tersebut adalah wanita-wanita dan lelaki yang telanjang, dan dinilai oleh jurinya “siapakah yang paling bagus bentuk tubuhnya?” dan siapakah yang punya tubuh paling menggoda? (Waktu itu saya sedang mencoba lihat channel-channel televisi ketika baru pindah, dan seumur hidup, baru kali ini Saya melihat wajah-wajah paling bodoh memproduksi acara tak bermutu seperti itu). Yang saya lihat adalah saat acara hampir berakhir dan juri memutuskan pemenangnya, yang kalah malah jejeritan menangis, kata si wanita yang menangis itu, karena perutnya kurang rata, makanya dia sedih sekali ketika kalah. Astaghfirrulloh!

Jelas saya sangat bersyukur, kita muslimah memang berbeda dengan mereka, Allah ta’ala mengucuri hidayahNYA, mengalirkan kecerdasan kepada kita, melimpahi hikmah dan ilmu-Nya setiap waktu, walaupun terkadang kadar keimanan kita sedang goyah atau turun, Allah SWT tetap menjaga dan melindungi kita, mendidik karakter jiwa ini, dan dengan segala skenarioNya, kita dibimbing umtuk selalu optimis dan bersyukur. Karena dunia ini cuma tempat singgah sesaat saja.

Kembali pada peristiwa sore itu. Benar-benar menyakitkan hati, detik itu perutku lapar sekali, (jadi teringat ada teman India pernah bercerita, tiba-tiba diperiksa saat kebelet pipis mau masuk WC umum di mall, terbayang khan bagaimana sulitnya menahan pipis selama satu jam?!), kesabaran diuji kembali, hampir sejam dicek-cek si kartu identitas itu. Mereka cuek saja melihat bayiku yang sudah bosan dan mulai rewel, hingga akhirnya suamiku membawakan sebungkus kentang goreng agar saya bisa menunggui pemeriksaan itu sambil mengganjal perut. Alhamdulillah, masih ada sosok-sosok pangeran di sampingku yang terus menghibur, kegiatan menanti sejam itu kami isi dengan do’a-do’a, kami untai beragam kata dengan percaya diri, bahwa Allah ta’ala pasti membalas kezhaliman mereka.

Terkenang akan kebersamaan dengan saudara-saudari seiman, dalam tautan aqidah yang sama, kita tidak pernah dibedakan berdasarkan karakteristik suku, antar golongan, jenis kelamin, atau ras. Kita diajarkan untuk menghargai sesama manusia, menjaga hubungan dengan Allah ta’ala serta hubungan dengan setiap insan, beraktivitas sehari-hari dengan diniatkan beramal shalih. Subhanalloh, alangkah indah semuanya dalam rambu-rambu agamaMU, ya Allah.

Bahkan tentang perbedaan bentuk fisik yang diciptakanNYA, Allah ta’ala mengungkapkan, “Wahai manusia! sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat [49] : 13)

Ada hal lain lagi, yang paling gemar dibicarakan kaum wanita tentang penampilan fisik, dikampanyekan ‘harus’ memamerkan rambut indah, kulit putih bersinar dan bentuk tubuh berkelok-kelok alias mempertontonkan lekuk-lekuk jasmani buat “cuci mata” para lawan jenis di sekitarnya. Bahkan yang sudah menutup aurat pun, masih tergoda untuk dielu-elukan sebagai sosok yang modis dan seksi dengan tetap berpakaian ‘islami’. Duhai saudaraku, tercengang diri ini melihat produk-produk ‘kecantikan semu’ yang ditawarkan media barat untukmu. Bayangkan, tak hanya produk bedak berjenis warna, ada pemutih kulit, ada penyedot lemak, ada pula produk bulu mata palsu dan berbagai jenis lensa kontak supaya tampilan mata tidak terlalu sipit atau tak terlalu besar. Ada produk untuk menambahi pembesaran buah dada bahkan untuk menipu diri di alat vital alias produk ‘kembali perawan’, astaghfirrulloh.

Sudah puluhan kali sahabat lama yang berjumpa saat on-line bertanya padaku, “Pakai produk perawatan apa sih, jeng…? Tampaknya tambah putih aja kamu yah, nitip donk produknya kalo’ mudik…”, dan kalimat lain sejenis itu. Lhooo, kalian lupakah bahwa kulit putih ini malah membuatku dibeda-bedakan oleh pak guru, aku diawasi ketat saat upacara bendera semasa sekolah gara-gara pak guru tersayang itu ketakutan kalau aku pingsan, lupakah akan hal itu? Lupakah kalian kalau pigmen kulit yang sangat pucat ini malah merupakan tanda daya tahan tubuh yang kurang kuat? Dan bahkan si kulit putih malah lebih cepat imbas bertotol coklat tatkala terserang sinar UV mentari dari pada yang berkulit gelap. Serta kumpulan minyaknya malah makin lebih kentara dibandingkan si kulit gelap. Jawabanku selalu sama, duhai saudari-saudariku nan sholihat, menutup aurat dan bersiram air wudhu adalah “kosmetika alami” sepanjang zaman, insya Allah.

Apalagi sudah ada kisah teman dekat yang nyaris diperkosa gara-gara tersibak betis putihnya di bus antar-kota yang ditumpangi. Juga makin majunya tekhnologi dan tuntutan modernisasi, para wanita berkulit putih makin memoles diri agar kecantikan fisik dieksploitasi sebesar-besarnya, semua lekukan tubuh ditonjolkan dengan maksud menggoda iman, juga dengan niat menipu serta berbuat kejahatan lain. Maka yang berkulit gelap pun jadi tak mau kalah, warna-warna bedak makin beragam dan polesan merata di wajah serta tubuh agar setidaknya tampak ‘imut si hitam manis’, plus bersandang gelar sexy juga. Di minggu-minggu ini, publik disodori berita-berita tentang ‘penipu-penipu cantik’, yang konon sudah sangat sukses meraup beragam harta kekayaan hasil ‘kerja haram’ tersebut.

Jangan lupa, efek-efek operasi plastik, penggunaan ragam kosmetika berbahaya dan terbakarnya kulit yang diumbar di bawah ultra-violet sudah banyak memakan korban. Tak hanya derita kanker kulit atau penyakit lainnya, namun para wanita yang ‘sukses’ memperbarui penampilan diri itu ada juga yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri, atau dibunuh saingannya, ada yang jiwanya makin terganggu hingga kehilangan ingatan, dll. Rasa syukur ternyata amat mahal harganya.

Saudara-saudariku, sipit atau tidak mata kita, putih maupun gelap kulit kita, tinggi atau pendeknya raga kita, kurus maupun gemuk badan kita, semuanya adalah kurnia Ilahi nan sempurna, jika memang tidak suka, silakan complain denganNYA kalau berani. Yang paling penting adalah tujuan hidup kita terarah, kampung akhirat menjadi cita-cita, kehalalan nafkah terpelihara. Jika bukan kita sendiri yang percaya diri dan bangga akan status kemusliman yang disandang, akan keberagaman bangsa yang ada, akan nilai ketaqwaan yang jadi penilaian sejati di hadapanNya, maka makin hancurlah generasi muda islam.

Setiap masa yang kita lewati pastilah memiliki pelajaran dan hikmah yang merupakan didikanNya. Abangku yang ilmuwan, nan tengah meneliti tentang kosmetika pernah mengingatkan bahwa tak ada kosmetika pemutih kulit kecuali campuran kimiawi berbahaya penyebab penyakit. Juga ia berujar, “Jangan tutupi penuaan yang terjadi padamu, guratan alami di kulit adalah tanda cinta Allah SWT, karena dengan sinyal itu mendudukkanmu pada tempat dan waktu yang tepat”. Kecintaan sejati dalam untaian ukhuwah islamiyah pun malah bertambah erat dengan iringan masa yang terus berlari. Menolehlah pula pada kekasih halal nan mendampingi, tatap lekat-lekat mukanya yang lelah, lihat gurat-gurat penat dan sisa keringat usai bekerja keras, bukankah engkau juga melihat sinyal cinta yang besar di matanya? Dan cinta sejati tak memandang fisik, tak berlandaskan ras, suku maupun warna kulit, ia datang dari jiwa yang bersih, kesucian nurani yang dieratkan oleh ikatan cintaNya, nan dikucuri hidayahNya dan hanya bisa dirasakan oleh hamba-hamba pilihanNya, insya Allah.

“Allahumma inni audzubika minal hammi wal hazan, Allahumma inni audzubika minal ajzi wal kasal, Allahuma inni audzubika minal jubn wal bukhl, Allahumma inni audzubika min gholabatiddayni wa qohrirrijal.” Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, dari rasa lemah dan kemalasan, dari kebakhilan dan sifat pengecut, dan dari beban utang dan tekanan orang-orang (jahat).

Wallahu ‘alam bisshowab.

By : bidadari_Azzam
(bidadariazzam.blogspot.com/
@Old Town Krakow yang banyak berhala, 7 april 2011)
telegram