Dialah Yang Tak Pernah Inkar Janji

Oleh Abdul Mutaqin
Satu lagi pembuktian bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya menyapa pengalaman saya melalui H. Sofi. Delapan bulan lalu, H. Sofi datang pada ta’lim Ahad sore membawa amanah mulia. Beliau bukan peserta kajian rutin saya, namun sengaja hadir untuk menyampaikan niatnya. Ahad sore itu terasa lebih hangat.

Lepas jama’ah Isya ditunaikan, kami berbincang dengan H. Sofi beserta pengurus pengajian dan tokoh-tokoh yang dituakan. Berbagi sapa dan perkenalan layaknya orang yang baru bertemu sangat bersahaja. Tahulah kami, bahwa H. Sofi adalah seorang kontraktor.
Singkat cerita, H. Sofi menyampaikan maksudnya mewakafkan tanah seluas lebih kurang enam ratus meter persegi kepada kami. Di atas tanah berdiri bangunan rumah permanen. Jika dirupiahkan, harga dari tanah dan bangunnya berkisar tiga ratus lima puluh jutaan. Beliau berharap agar tanah dan bangunan itu dimanfaatkan untuk kegiataan dakwah dan pendidikan. SubhanaAllaah, masih ada hamba yang menyisakan ruang untuk agama-Mu.

Beberapa hari kemudian tanah itu diukur dengan pihak-pihak terkait. Dan lagi-lagi kami tercekat, ternyata luas tanah itu tujuh ratus lima puluh meter persegi. Kami kabarkan hal itu, dan H. Sofi menyatakan enam ratus atau tujuh ratus lima puluh meter sama saja. Itulah yang diwakafkan. Allahu Akbar.
Ahad sore kemarin, asisten H. Sofi bilang pada saya, "Pak, beliau baru saja dapet rizki. Uangnya dibelikan 2 hektar tanah di Bogor". Saya bilang, "Dia Allah, memang tak pernah inkar janji". ShodaqaAllaah

***
Para pecandu sedekah, tidak akan pernah takut jatuh miskin. Sebab bayangan menjadi miskin saat ingin bersedekah diyakini sebagai khayali dari setan (QS. Al-Baqarah[2] : 268). Sebaliknya, mereka meyakini dengan sepenuh hati, bahwa sedekah akan membuat harta mereka bertambah subur (QS. Al-Baqarah [2] : 276) dan melimpah ruah. Itulah janji Allah dalam firman-firman-Nya. Semakin diyakini dan diamalkan janji-janji itu, semakin nyata Allah membuktikannya.

Allah adalah dzat yang paling baik pelayanan-Nya, paling murah pemberian-Nya dan paling baik balasan-Nya. Meskipun tidak semua orang lapang rezekinya, tidak pula semua sempit rezekinya, tetapi balasan Allah bagi yang bersedekah tetaplah balasan yang terbaik untuk hamba-Nya (QS. Saba’ [34] : 39). Bahkan begitu baik balasan Allah, Dia menjanjikan kelipatan tuju ratus kali bagi setiap satu butir biji sedekah yang ditanam pelakunya (QS. Al-Baqarah [2] : 261), SubhaanaAllaah.

Semua orang mafhum, bahwa harta benda amat berguna saat di dunia. Harta banyak dimanfaatkan untuk menebus segala kebutuhan fisik dan kemewahan. Tanpa harta, segala kemewahan hanya berhenti pada batas angan-angan. Maka kaya-miskin, orang senang-orang susah atau mewah-melarat sangat kentara. Bahkan status itu bisa dimanfaatkan untuk kebanggaan hidup. Tapi tidak demikian halnya bagi pecandu sedekah. Harta benda buat mereka tidak untuk hanya membeli kebutuhan hidup dunia tetapi digunakan untuk membayar uang muka bagi surganya kelak. Dalam beberapa alasan, bahkan mereka tidak ingin membeli kesenangan dan kemewahan meskipun harta bendanya melimpah dan mencukupi untuk memborongnya. Mengapa, karena mereka yaqin, pertama, sebanyak apapun harta benda dimiliki, ia tidak akan pernah cukup untuk membiayai hawa nafsu duniawi. Kedua, manfaat harta benda barulah berarti apabila bisa menolong hidupnya di akhirat kelak. Ketiga, satu-satu jalan supaya harta benda bisa menjadi penolong di akhirat kelak adalah melalui sedekah. Sebab di akahirat nanti, secara fisik harta benda menyerah tidak bisa menolong pemiliknya di hadapan Allah.

“pada hari yang tidak bermanfa’at lagi harta dan tidak pula anak, kecuali orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang selamat “.(terjemah QS. Asy Syu’aro : 88-89).

***

Dalam urusan kekayaan, janganlah seperti Qorun. Dalam hal kekuasaan, janganlah seperti Fir’aun. Qarun dan Fir’aun adalah model antagonis Al-Quran yang amat terang soal keserakahan harta dan mabuk kekuasaan. Al-Qur’an menyampaikan beritanya kepada kita sebagai peringatan bahwa keduanya justeru hancur oleh harta dan kekuasannya sendiri.
Memang, Qarun dan Fir’aun hidup di zaman lampau. Tetapi spirit keserakahan Qarun dan kecongkakan Fir’aun tidak pernah mati dan selalu saja diadopsi turun temurun sepanjang zaman oleh manusia yang matanya telah dibutakan kilau duniawi. Harta memang menyilaukan, seperti silaunya mata Qarun sehingga enggan bersedekah. Kekuasaaan memang menyilaukan, seperti silaunya mata Fir’aun hingga mengaku sebagai tuhan.

Paradgima koruptif dan kekuasaan yang manipulatif, sebenarnya adalah wujud dari spirit Qorunisme dan Fir’aunisme modern. Bahkan bila keduanya berkumpul dalam satu geng, mereka bisa melemahkan hukum, menyulap penjara jadi taman wisata dan memoles kebohongan seperti kebenaran. Karena itu, agama melarang keras orang mengambil yang bukan haknya, tetapi menganjurkan memberi semampunya. Agama membenci dusta, tetapi menyukai kejujuran walaupun pahit dirasakan.
***
Menjadi orang kaya adalah impian hampir kebanyakan orang. Dan kebanyakan orang dihantui oleh kemiskinan serta takut jatuh berkubang di dalamnya. Tidak sedikit orang kaya yang takut miskin karena bersedakah. Maka jadilah ia seperti Qorun. Tidak sedikit pula orang miskin yang tidak kehabisan harapan untuk tetap bersedekah dan tetap mau berbagi di sela keterbatasannya. Seandainya acara minta tolong di televisi itu bukanlah rekayasa, maka sebenarnya tayangan itu adalah pukulan telak bagi orang kaya yang pelit.
Berbahagilah orang kaya yang dengan kekayaannya mengantarkannya pada ketaatan. Sebab, bagi mereka di dunia sudah kaya dan bertambah kaya di akhirat kelak. Bagi mereka laksana mengecap dua kebahagiaan hidup; bahagia dunia akhirat.

Berbahagialah orang miskin yang dengan kemiskinannya tidak menghalanginya dekat kepada Allah. Sebab kelak, Allah akan mengganti penderitaan dan kemiskinannya di dunia dengan kekayaan melimpah di Firdaus-Nya. Bagi mereka laksana bersakit-sakit dahulu, senang-senang kemudian.
Rugilah mereka yang kaya di dunia, tetapi bangkrut di akhirat. Sebab kekayaannya di dunia semata-mata untuk kenikmatan yang nisbi. Kemewahan hidup telah membutakan dan menghalanginya dekat kepada Allah. Mereka bagaikan menikmati madu di dunia, tetapi meminum jus Jadam di akhirat.

Alangkah rugi serugi-ruginya orang miskin yang durhaka kepada Allah sebab di akhirat pun ia lebih menderita. Na’udzubillah.
Semoga setiap kesantunan dalam sedekah membuka kesadaran kita semua. Allahu a’lam.

Depok, Juni 2011.
abdul_mutaqin@yahoo.com
telegram