Bagaimana Hukumnya Berpuasa Tapi Tak Berjilbab? Baca Jawabanya Disini

Sebagian muslimah menunaikan puasa sebagaimana muslimah lainnya, tetapi mereka tidak berjilbab. Bahkan, ada yang pakaiannya terbuka sedemikian rupa sehingga mengganggu orang lain dengan auratnya. Bagaimana hukum puasa muslimah yang demikian itu?
Syaikh DR Yusuf Al Qardhawi menjelaskan, puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk menyucikan jiwa, menghidupkan hati, menguatkan iman dan mempersiapkan seseorang menjadi bertaqwa. Sebagaimana firman-Nya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)
Oleh karena itu, orang yang berpuasa harus membersihkan puasanya dari hal-hal yang merusak dan mengotorinya. Ia harus menjaga matanya, telinganya, dan anggota badannya dari kemaksiatan.
Dalam hadits Rasulullah disebutkan, banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ

”Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa baginya kecuali rasa lapar.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah)
Mengapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapat apa-apa selain lapar dan dahaga? Karena ia melakukan kemaksiatan. Salah satu kemaksiatan yang dicontohkan dalam hadits adalah berkata-kata palsu.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

”Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya” (HR. Bukhari)
Membuka aurat (tidak berjilbab) adalah salah satu bentuk kemaksiatan. Bahkan, jika kemaksiatan lain hanya merugikan dirinya sendiri, orang yang tidak menutup aurat bukan hanya bermaksiat secara pribadi tetapi juga membuat orang lain bermaksiat dengan memandangnya, dengan melihat auratnya.
Puasa sejatinya adalah mengendalikan syahwat dan menghindari maksiat. Namun bagi orang yang membuka auratnya, ia justru membuat orang lain terpicu syahwatnya dan terbawa bermaksiat.
Satu hal pasti yang menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama’ tanpa ada yang berselisih pendapat, bahwa muslimah wajib menutup aurat. Aurat wanita adalah sama seperti ketika ia shalat. Yakni ia wajib menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Membuka aurat hukumnya haram. Seorang muslimah yang telah baligh, tetapi ia membuka auratnya, maka ia berdosa.
Apakah dosa membuka aurat ini, maksiat membuka aurat ini otomatis membuat puasanya batal? Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa kemaksiatan membatalkan puasa. Menurut pendapat ini, berdusta, mengumpat, ghibah, melihat aurat, membuat puasa menjadi batal. Demikian pula memperlihatkan aurat kepada orang lain. Pendapat ini dipegang oleh Al Auza’i dan Ibnu Hazm dari kalangan Zhahiriyah.
Sedangkan jumhur ulama’ berpendapat bahwa kemaksiatan tidak membatalkan puasa, namun merusak pahala puasa sesuai dengan kadar kemaksiatan yang dilakukan. Demikian ini karena, menurut jumhur ulama’, tidak seorangpun bisa benar-benar bersih dari kemaksiatan, khususnya kemaksiatan lisan.
Imam Ahmad mengatakan, “Andaikata ghibah membatalkan puasa, niscaya kita tidak dapat berpuasa.”
Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat kedua. Dengan demikian, orang tidak berjilbab, bukan berarti puasanya batal. Namun, sudah pasti pahala puasanya tidak bisa sempurna. Bahkan, na’udzubillah, dikhawatirkan puasanya tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Wallahu a’lam bish shawab.
sumber: webmuslimah
telegram