Kenapa Istri Susah Sampai ‘Puncak’?

BETUL memang, puncak hubungan jima bagi sebagian orang — apalagi keluarga dakwah, terutama sang istri — sering kali tidak menjadi sesuatu yang penting. Namun, penting kiranya bagi pasangan suami istri untuk menyadari bahwa jima merupakan sebuah kebutuhan bagi keduanya, bukan hanya untuk suami saja.
Jika suami secara teknis mudah dalam cara pengukurannya, tidak demikian dengan pihak istri. Ada banyak faktor non-teknis yang memengaruhinya.
Sulit ke puncak sering sekali terjadi pada istri. Istri dengan gangguan seksual seperti ini tidak mampu merasakan kenikmatan hubungan yang semestinya dirasakan dalam berhubungan intim dengan suaminya, sehingga dia melakukannya hanya sebatas kewajiban saja sebagai seorang istri.
Tentunya ini bisa menjadi suatu hal yang merugikan salah satu pihak.
Pikiran
Sekali lagi, pikiran berperan sangat penting dalam gairah dan kemampuan mencapai pucak saat berjima. Seorang istri harus benar-benar santai dan berada dalam momen bisa mencapai puncak kenikmatan sehingga istri tak akan pernah mencapai puncak jika fokus pada hal lain. Jadi ketika sudah memasuki “jadwal”, hendaknya pihak istri merenungkan hal positif.
Beban kapan mencapai puncak
Ini adalah salah satu pembunuh terbesar bagi seorang istri di tempat tidur. Alih-alih menikmati momen berdua bersama suami, istri juga tampaknya lebih banyak berpikir tentang waktu dan berapa lama yang dibutuhkan untuk mencapai puncak.
Jima bukan sekadar kewajiban dan kebutuhan. Seperti ajaran Islam, jima juga menjadi rekreasi, istri menjadi pelipur hati suami, dan begitu pula sebaliknya. Jadi para istri, berbahagialah dengan suami Anda! (sumber; islampos)
telegram