Ini Hukum Suami Memanggil Isteri Dengan "Ummi, Ibu atau Dek"

Pertanyaan: Bagaimana hukum seorang suami yang memanggil isterinya dengan panggilan “Ummi”, dibolehkan atau tidak, jika boleh apa dalilnya dan jika tidak boleh apa juga dalilnya, mohon bagi para ustadz dapat memberi jawaban dan arahan. Syukran
Fulan di Jakarta Timur

Jawaban:
Menurut Ustadz Ahmad Isrofiel Mardhotillah, ada pendapat dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di terkait memanggil isteri dengan “‘Ummi, Ibu atau Dek”.
Syaikh As-Sa’di mengatakan,
أنه يكره للرجل أن ينادي زوجته ويسميها باسم محارمه، كقوله ” يا أمي ” ” يا أختي ” ونحوه، لأن ذلك يشبه المحرم
“Dimakruhkan seorang suami memanggil isterinya dengan panggilan nama mahramnya seperti ‘wahai ibuku’, ‘wahai saudaraku (mari dek)’ atau semacam itu. Karena seperti itu berarti menyerupakan isteri dengan mahramnya.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 893)
Namun, kalau melihat dari kebiasaan suami memanggil isterinya dengan panggilan ‘ummi, dek, mama atau semisal itu’, secara jelas kita tahu bahwa maksudnya adalah bukan panggilan zhihar seperti yang dimaksudkan orang jahiliyyah.
Maka, panggilan seperti itu hanyalah panggilan biasa, bahkan panggilan yang menunjukkan rasa sayang atau kedekatan. Sehingga kesimpulannya, memanggil isteri seperti itu tidaklah masalah.
Wallahu a’lam bish shawwab. (adibahasan/arrahmah.com)

2 Responses to "Ini Hukum Suami Memanggil Isteri Dengan "Ummi, Ibu atau Dek""

  1. Salah besar sekali ini yang membuat tulisan di atas, tdk sesuai dgn ilmu agama islam yg benar, kpd penulis, jika anda beragama islam maka contohlah nabi Muhammad saw, beliau tdk pernah memanggil istrinya aisyah dgn panggilan ummi ( ibu ) , karena ummi panggilan kpd perempuan yg melahirkan kita dan yg menjadi istri dr ayah kita, apakah istri anda sblmnya istri ayah anda sehingga d panggil ibu...? lbh baik istri d panggil dgn kata " sayang" sprti rasul memanggil istri dgn sebutan khumaira ( pipi yg kemerah2an)
    Maaf sblmnya, smga bermanfaat

    ReplyDelete
  2. Mas Roni, andalah yg kurang tepat jk menghakimi orang lain salah. Tidak pernah ada larangan dr Rosul. Jd, ya boleh saja. Seperti jawaban ustadz di atas. Tp silakan berbeda pebdapat asal tdk menghakimi pihak lain, seakan anda yg paling benar.

    ReplyDelete

berkomentarlah yang sopan dan tidak sara, sesungguhnya Allah Maha melihat

- ww9 - new3