Anda Perlu Tahu! Etika, Norma dan Kepentingan

Oleh: Anshari

Tahun 2001 tepatnya di bulan Desember, publik Amerika dikejutkan sebuah kasus yang menggemparkan. Enron, sebuah perusahaan yang masuk dalam 5 besar diantara 700 perusahaan terbaik Amerika mendaftarkan kebangkrutan. Sangat aneh karena bulan Oktober sebelumnya, Andersen, Auditor publik memberikan laporan bahwa Enron mencatat keuntungan sebesar USD 600 juta dollar (setara 7,8 trilyun rupiah).  Ternyata, keuntungan itu hanya ilusi dan tipuan pencatatan. Setelah penyelidikan investigatif, diketahui Enron memanipulasi pencatatan lebih dari USD 1 milyar dollar sehingga posisi rugi-laba membukukan kerugian sebesar USD 644 juta (setara lebih dari 8 trilyun).

Sejarah mencatat, saat bankrut, Enron meninggalkam hutang sebesar USD 31,2 milyar, memecat 5000 pegawai dan harga sahamnya jatuh dari USD 90.56 per lembar menjadi kurang dari USD 1 per lembar.


Kasus ini menyebabkan kerugian yang luar biasa bagi banyak pihak terutama para pekerja yang mempercayakan uang pensiunnya dengan memegang saham Enron. Ribuan pekerja yang sangat sumringah tiba-tiba jatuh miskin karena uangnya habis dengan terjungkalnya harga saham Enron yang begitu murah. 

Kasus Enron, sebuah perusahaan besar dunia, diaudit oleh Arthur Andersen (auditor skala global), memiliki prosedur dan aturan yang ketat, dipimpin oleh profesional sejati, berada di Amerika yang merupakam negara dengan tingkat kepercayaan tinggi, tetapi melakukan penipuan dan berakhir dengan hilangnya reputasi dan histori. Mereka sangat mengerti integritas, profesionalisme, etika dan menjadi panutan.

Mengapa bisa terjadi?

Pada dasarnya semua manusia sangat mengerti dengan etika dan norma. Manusia dimanapun berada dan apapun bangsanya paham dengan kaidah-kaidah universal yang namanya baik dan buruk. Tapi, ketika semua itu dihadapkan dengan "kepentingan" serta "keuntungan", manusia akhirnya harus memilih. Eksekutif Enron saat itu memilih "kepentingan" dan meninggalkan etika dan norma.

Asap dan Kepentingan

Musuh itu kalaupun kita anggap musuh, atau kita anggap musibah, atau kita anggap ujian, bernama "asap". Lebih dari tiga bulan, asap pekat hasil pekerjaan kreatif manusia memenuhi atmosfer dan menenggelamkan 7 (tujuh) propinsi dengan kepekatannya, menyebar ke negara-negara tetangga dan memberikan pekerjaan besar bagi elemen negara untuk mengatasinya.

Jutaan liter air telah dicurahkan dari langit melalui pesawat yang menderu, jutaan ton garam disemai di atas awan yang bernama kolonimbus untuk memancing turunnya hujan. Ribuan prajurit diterjunkan, dibantu brimob, relawan dan masyarakat, masuk ke dalam hutan dengan peralatan semaksimal yang ada untuk memadamkan titik api. Namun asap tetap pekat, anak-anak mulai menjerit, masyarakat mulai berteriak, surat-surat dikirimkan ke Presiden agar musuh yang bernama 'asap' bisa segera ditundukkan. Tapi, musuh ini hanya bisa dilumpuhkan dengan 'hujan' dan sayangnya, hujan belum bersedia turun.

Sama seperti kasus Enron, siapapun tahu bahwa "membakar" akan menghasilkan asap. Bagaimana jika 1,7 juta hektar yang dibakar? Setiap orang tahu, asapnya akan memenuhi pulau. Aturan juga sudah dikeluarkan, setiap pelaku industri perkebunan juga sudah memberikan komitmen, Pemda merasa sudah mengawasi, Kementerian sudah merasa tegas, Kepolisian sudah melakukan tindakan hukum.

Mengapa asap mengepul?

Kita harus melihat ini sebagai pelajaran etika dan norma yang mahal sekali harganya. Lima tahun lalu, Malaysia adalah produsen terbesar CPO dunia. Melihat itu, Indonesia bercita-cita mengungguli Malaysia. Sangat pantas memang dengan melihat luasnya daratan yang menjadi potensi. Sama seperti rumah yang tumbuh di tanah kosong perkotaan, lahan sawit menjamur di tanah kosong manapun yang tersedia. Perbukitan, lembah, ngarai, gambut, bahkan jika pantai bisa ditanam sawit, maka kita akan melihat replika pohon kurma itu memenuhi garis pantai.

Kepentingan akan keuntungan membuat semuanya seperti boleh dilakukan. Hutan dibakar, di atas bara muncullah tanaman sawit yang jika ditanya, tidak ada yang tahu siapa yang punya. Batas-batas lahan merembet jauh dari semestinya. Jika ada pertanyaan, maka bukti akan keabsahan akan ditunjukkan, apakah itu izin konsesi, audit, bukti prosesi atau apalah tumpukan validasi yang menyatakan bahwa semua investasi telah memenuhi aturan.

Tapi, apakah etika dan norma masuk dalam pertimbangan kepentingan?

Dengan kasus asap yang melanda negeri ini, dengan singkat terjawab, "TIDAK".

Apalah artinya narasi tanpa realisasi. Saya hanya ingin memberikan deskripsi bahwa kasus ini akan terus terjadi jika semua pihak terutama regulasi yang mempunyai kemampuan memaksa dan dipercaya rakyat yang harus dilindungi, tidak melihat pekerjaannya sebagai patriot sejati tetapi hanya sebatas janji dan sialnya lagi hanya mengukurnya sebagai sesuap nasi.

Mudah-mudahan, makhluk bernama asap ini membuka kesadaran kita semua, di atas kepentingan itu ada "etika" dan "norma". Ketika itu dilanggar karena tak berwujud, hasil akhirnya adalah kerugian yang tiada tara. (sumber:WA)
telegram