Apakah Bapak Mau Menjilat Kotoran Binatang?

Embun dipeluk cuaca, pagi menjelma. Di sebuah kantor, seorang wanita muslimah sedang melakukan wawancara kerja.

"Penampilan anda sungguh jelita,oleh sebab itu perusahaan kami tertarik memperkerjakan anda," ujar seorang pegawai kantor yang ditugaskan mewawancara.

"Alhamdulillah, sungguh kecantikan itu anugerah. Apabila dianggap bernilai lebih dalam perusahaan anda, tentu atas kehendak Allah semata. Bagaimana dengan syarat lainnya?" Sahut sang wanita.


"Masalah ijazah itu cuma formalitas doang, lagipula perusahaan kami bergerak di bidang niaga. Jadi lebih mengutamakan penampilan daripada keilmuannya."

"Jika demikian apakah saya diterima berkerja?"
"Tentu saja, tetapi ada syaratnya."
"Syarat apalagi, Pak. Semoga saya bisa memenuhinya."
"Gampang... saudari mesti membuka jilbab dan menggunakan kemeja lengan pendek serta rok mini yang sudah disediakan sebagai pakaian kerja."

"Inna lillahi wa inna ilahi rajiun, musibah apa ini ya Allah," gumam wanita itu dalam hatinya.

Keadaan hening. Wanita itu berusaha menenangkan dirinya.
"Bagaimana? Apa saudari bersedia?"
"Sebelum menjawab pertanyaan Bapak, boleh saya bertanya?"
"Tentu, silakan bertanya apa saja."

"Apakah Bapak bersedia menjilat kotoran binatang?" Ujar wanita itu dengan tegasnya.
"Jangan menghina saya! Berani-beraninya anda bertanya yang sangat tidak manusiawi, percuma saja anda berjilbab kalau begitu omongannya!"
"Justru karena saya berjilbab maka saya berkata demikian, lebih manusiawi mana menyuruh wanita berjilbab agar mengobral auratnya dengan menyuruh penghina agama untuk menjilat kotoran margasatwa?"

Wanita itu menatap lelaki di hadapannya dengan pandangan penuh kharisma.
"Mengapa Bapak diam? Baik saya jelaskan! Hijab adalah identitas agama sekaligus harga diri saya. Dengan anda menyuruh saya membukanya berarti anda bukan saja menghina saya tetapi juga menghina agama yang saya anut dengan segenap jiwa."
Lelaki itu terdiam, tak tahu harus berkata apa.

"Sedangkan menyuruh anda menjilat kotoran binatang itu hanya menyangkut diri anda. Lagipula, kalau cuma terkena kotoran binatang bisa bersuci dengan menggunakan air dan campuran tanah, lalu bagaimana caranya saya bersuci apabila mengotori keimanan hanya demi sebuah pekerjaan saja?"
Wanita itu menarik napas sejenak, ada yang terasa menyesak di dada.

"Jilbab itu sudah saya anggap nyawa. Daripada anda menyuruh membuka jilbab dan menggunakan baju lengan pendek serta rok mini, lebih baik bunuhlah saya. Insya Allah itu akan menjadikan saya mati syahid. Jadi maaf, saya yang menolak berkerja pada anda karena wanita bukan alat memasarkan produk komoditas dengan mengumbar seksualitas, wanita harus cerdas dan memiliki integritas. Itulah gunanya ijazah dan bagi saya, ilmu itu juga prioritas!" Wanita itu mengakhiri wawancara dan pergi begitu saja.

[penulis: Arief Siddiq Razaan]
telegram