Mama, Boleh Tidak Aku Minta Ibu Baru?

Bulan telah membulat sempurna, keadaan rumah sudah sepi. Anak-anak juga sudah tidur, seorang suami menghampiri istrinya yang tengah asyik mengetik.
“Ma, boleh minta tolong. Berhentilah mengetik dan berdandanlah yang cantik malam ini..”

“Papa kenapa sih? Kok minta yang aneh gitu, Mama lagi sibuk mempersiapkan laporan pertanggungjawaban untuk diserahkan kepada bos.”
“Kan bisa dilanjutkan nanti, nanti Papa temani.”
Sang istri masih saja tidak menuruti kemauan suaminya, ia masih asyik dengan kesibukannya.

“Baiklah, kalau Mama berkeberatan. Sekarang, Papa ingin bertanya; mengapa setiap pagi Mama selalu berhias sangat cantik saat akan berangkat kerja?”
“Waduh, makin aneh saja pertanyaan Papa. Sudah jelas supaya Mama terlihat cantik di depan teman satu kantor, apalagi posisi Mama sebagai sekretaris, bos mewajibkan Mama terlihat rapi saat ada rapat. Lagipula, kalau Mama terlihat cantik di mata orang-orang, Papa ikut bangga juga kan? Dahulu saja, Papa tertarik pada Mama salah satunya saat melihat Mama terlihat cantik di mata Papa, bukankah begitu?”

Sang suami tersenyum. Kemudian berkata.
“Baiklah, jika itu jawaban Mama. Sekarang, bolehkah Papa minta tolong untuk besok pagi Mama tidak usah masuk kerja. Papa juga sudah mengambil jatah libur, sebab Aardhan kan liburan semester. Bagaimana kalau dari mulai pukul delapan pagi, sampai pukul tiga sore kita rekreasi keluarga?”
“Tidak bisa, Pa. Mama mau jadi pegawai teladan, kalau Mama malas-malasan kerja nanti dipecat jadi sekretaris dan jadi karyawan biasa akan sangat merugi.”
“Kan hanya sehari, Ma.”
“Waktu adalah uang, besok adalah rapat laporan akhir perusahaan. Ini sangat penting. Sudahlah, Papa berangkat rekreasi bareng Aardhan saja, kalau perlu ajak saja pembantu kita untuk mengurusi kebutuhan Papa selama rekreasi.”
Melihat respon istrinya yang demikian, akhirnya sang suami hanya mampu terdiam. Sejujurnya, ada keinginan yang mengganjal dihatinya. Pertama, malam ini ia mengharapkan istrinya merias diri karena ia ingin meminta bergubungan intim. Kedua, ia meminta istrinya meluangkan waktu delapan jam, pada ke esok harinya karena sudah setahun sejak istrinya menjabat sebagai sekretaris, tidak pernah lagi ada waktu luang untuk rekreasi sebagai wujud syukur atas presatsi yang diraih anaknya di sekolah.
Malam pun berlalu dengan cepat. Pada ke esok harinya, sang istri berdandan cantik karena kepentingan kantor. Sementara itu, pembantu mengurus segalakebutuhan rumah tangga, mulai memasak, menyapu, mencuci baju hingga persiapan rekreasi.

Sesampai di kantor, sang istri dipuji cantik oleh bosnya. Dia merasa sangat bangga, sebab tidak sia-sia usahanya berhias maksimal pada pagi hari tadi. Sementara itu, di tempat rekreasi, anak dan suaminya berserta pembantu menikmati rekreasi dengan bahagia. Saat sedang membeli minuman, Aardhan bertemu sahabat baru.
“Wah, kamu bahagia ya. Rekreasi bisa bareng ayah dan ibu. Nggak kayak aku, cuma bareng kakakku. Andai saja aku boleh meminta kepada Allah, aku ingin punya ibu baru, sebab ibuku tidak pernah mau mengurus kebutuhanku.”
Aardhan terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Hingga sore hari saat, sesudah pulang dari rekreasi. Aardhan menunggu Mamanya pulang ke rumah ingin menceritakan pengalamannya. Begitu Mamanya pulang, ternyata langsung tidur. Malam harinya, Aardhan menemui Mamanya.
“Ma, boleh tidak aku minta ibu satu lagi?”
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aardhan. Ia menangis, tentu saja hal ini mengangetkan sang suami.
“Ma, kenapa Aardhan menangis?”
“Mama menamparnya! Papa ngajarin apa ke Aardhan sampai bicara tidak sopan begitu?”
“Bicara tidak sopan apa?”
“Dia minta ibu satu lagi, apa maksudnya coba? Ini pasti Papa yang ajarin?”
“Tidak, Ma. Bukan Papa yang ajarin, tadi Aardhan punya teman baru waktu rekreasi, terus dia bilang andai boleh minta sama Allah, dia mau minta ibu baru satu lagi, sebab ibunya sibuk kerja. Jadi, kalau salah satu ibunya kerja ada satu lagi yang mengurusnya di rumah, bukannya Mama juga sibuk?” ujar sang anak.
Terkejutlah hati wanita yang dipanggil mama, ia tak tahu harus berujar apa. Kembali, wanita itu akan memukul anaknya. Tetapi sang anak berlari, kemudian mengunci diri di dalam kamar.

“Ma! Dirimu diperintah berhias untuk bosmu begitu patuh, tetapi mengapa saat di rumah dan aku memintamu berhias dirimu tidak berkenan? Dirimu diperintah berdiam selama berjam-jam di kantor oleh bosmu patuh, mengapa kuminta berdiam di rumah sekian jam untuk menemani rekreasi malah mengeluh? Kini saat anakmu menginginkan ibu baru karena merasa kurang diperhatikan, mengapa dirimu tidak terima?” kali ini sang suami yang mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.
Kembali wanita yang dipanggil Mama itu terdiam.
“Lihatlah, anak kita yang masih kecil saja berpikir demikian. Ia merindukan kasih sayang ibunya. Demikian pula diriku, sebagai suamimu. Ingat tidak kapan terakhir kali kita berhubungan badan? Tiga bulan yang lalu! Selama itu, aku masih menahan diri. Hingga tadi malam, diriku memintamu berhias untuk satu tujuan agar dirimu mengerti keinginanku, namun tetap saja dirimu tidak peka, tidakkah dirimu mengerti hatiku telah terluka. Kalau memang terus-terusan begini, mungkin benar kata Aardhan, aku mesti mencarikannya ibu baru.”
“Apa katamu, Pa? Mencari ibu baru untuk Aardhan, jadi kamu mau menceraikanku? Iya begitu!”

“Tidak! Aku tahu perceraian itu sangat dibenci oleh Allah, daripada bercerai lebih baik Papa menikah lagi.”
“Aku tidak sudi dipoligami! Langkahi dulu mayatku, kalau mau menikah lagi. Laki-laki memang begitu, habis manis sepah dibuang!”
“Astagfirullahhaladzim… tadi aku bilang apa? Kalau memang terus-terusan begini. Tetapi, aku ingin kita memperbaiki ini semua. Sadarlah, Ma. Untuk kebutuhan rumah tangga, Mama sudah tidak pernah ikut campur. Mengurus rumah, menyiapkan makanan, dan hal yang lain. Bahkan, kemarin waktu Aardhan sakit, Mama malah berkata biar diurus pembantu. Memangnya Aardhan itu anaknya pembantu?”
“Mama kan sibuk, jabatan di kantor semakin tinggi, harusnya Papa bisa memahami!”
“Papa sudah mencoba memahami, tetapi apa Mama memahami perasaan Papa? Memahami perasaan Aardhan? Meski pun kita sudah punya pembantu, namun bukan berarti Mama lepas tangan begitu saja memuliakan suami dan anak-anak. Mama masih ingat sewaktu pembantu kita memasak dan masakannya terasa kurang garam, tiba-tiba Mama memarahinya habis-habisan? Tetapi pada saat itu Mama tidak ingat, bahwa Mama tidak pernah memasak untuk Aardhan dan aku, dan kami tidak mengeluh. Saat itu, kami sadar dirimu sibuk kerja, tetapi kalau sampai satu tahun berarti dirimu sudah lalai pada kewajibanmu.”
“Jadi mau Papa apa? Katakan! Mau cerai!”
Sang suami menghampiri istrinya. Dipeluk badan istrinya, meski pun meronta-ronta.

“Ma, tenang… tenang… tenanglah. Yakinlah, Papa sangat mencintai Mama, karena itu Papa selama ini berdoa semoga Mama lekas sadar. Semoga dengan kejadian ini, rumah tangga kita dapat utuh kembali, menjadi lebih haromonis. Papa tidak akan menceraikan Mama, Papa juga tidak akan menikah lagi. Papa hanya meminta mama kembali menjadi istri dan ibu yang baik, mari kita kembali berusaha membina rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah.” []
Penulis: Arief Siddiq Razaan, 12 Oktober 2015
telegram