Seorang Anak Overdosis Akibat Membaca Resep Dokter

"Jangan lupa, obat yang dari dokter diminum. Ayah menyusul ibumu dulu," pesan seorang ayah pada anaknya.
Saat pulang ke rumah, ke dua orang tua sang anak terkejut karena melihat buah hati mereka terkapar di lantai dengan mulut berbusa. Kemudian mereka membawanya ke rumah sakit, beruntung masih bisa diselamatkan. Saat sudah sadar, sang ayah bertanya mengapa hal itu bisa sampai terjadi.
"Dedek tadi minum obat sembilan butir, Yah."
"Yaa Allah, Dek. Kenapa minum sebanyak itu?"

"Obatnya kan ada tiga bungkus, Pada tiap bungkusan tertulis 3x1."
"Iya, terus?"
"Berarti tiga butir obat diambil dalam satu bungkus untuk sekali minum, kalau tiga bungkus kan sembilan butir."
"Bukan begitu, Dek. 3x1 itu artinya, tiga kali sehari."
"Tapi kan tiga-nya yang duluan, berarti tiga butir sekali minum."
"Siapa yang mengajarimu begitu?"
"Ibu guru yang ngajari, katanya kalau tiga dikali satu berarti tiga-nya sebanyak satu kali."
Sang ayah terdiam sejenak.
"Iya kalau di dalam perkalian, memang tiga dikalikan satu berarti tiga-nya sebanyak satu kali. Tetapi kalau untuk obat, tiga kali satu berarti dalam satu hari obatnya diminum sebanyak tiga kali."
"Berarti dokternya salah nulis resep, Yah."
"Salah nulis resep bagaimana?"
"Harusnya 1x3 = 1 pagi + 1 siang + 1 malam."

Sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya. Entahlah, apakah memang dokternya salah menulis resep atau pola pengajaran di sekolah yang salah.
Semoga saja hal ini bisa menjadi pelajaran bagi orang tua agar lebih memperhatikan buah hatinya. Pola pikir anak-anak menyesuaikan dengan apa yang dipelajari terlebih dahulu, sehingga tidak bisa dipersalahkan apabila pola pikirnya demikian.

Cerita di atas hanyalah sekadar contoh kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua kerap membiarkan anak menelan bulat-bulat informasi dari media televisi, seperti untuk menjadi jagoan harus berkelahi dan menjadi pemenang. Oleh sebab itu, saat dijahili temannya, sang anak tidak terima dan membalasnya dengan pukulan agar seperti jagoan yang dilihatnya, Waspadalah, sekarang ini tontonan banyak yang bukan tuntunan. Dampingilah anak-anak saat menonton televisi sehingga informasi yang diperoleh tidak diikutinya secara mentah-mentah. Jangan sampai karena gagal menangkap informasi, membuat buah hati menjadi berperilaku buruk.

Penulis: Arief Siddiq Razaan
telegram