Seorang Kakek yang Selalu Tertawa dan Menangis Saat Mendengar Kabar Kematian

# Seorang Kakek yang Selalu Tertawa dan Menangis Saat Mendengar Kabar Kematian.
Kakekku selalu tertawa saat ada berita kematian yang diumumkan pada pengeras suara di Masjid. Raut wajahnya dipenuhi kebahagiaan, kemudian tak berapa lama ia menangis.

Melihat itu, tentu saja heran menyelimuti pikiranku. Daripada berprasangka yang tidak baik, maka kutanyakan saja mengapa kakek berlaku demikian.
"Maaf, kek... kenapa kakek tertawa sekaligus menangis setiap kali mendengar berita kematian?"

"Cucuku, kematian ialah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Bersyukurlah, sebab yang diberitakan meninggal masih beragama Islam. In-syaa Allah, almarhum/almarhumah dalam perlindungan Allah."
"Apakah memang demikian? Apakah Allah menegaskan hal itu, kek?"

" Dalam Qur'an Surah Ali Imran (3: 102), Allah berfirman: Sekali-kali janganlah kamu mati kecuali kamu dalam keadaan muslim”. Oleh sebab itu, kakek berdoa dengan bahagia untuk meyakinkan Allah bahwa almarhum/ almarhumah selagi hidup ialah muslim yang baik. Tidak pernah berbuat dosa pada kakek."
Aku menganggukan kepala, memahami apa yang disampaikan kakek.
"Lalu, mengapa setelah itu kakek menangis?"

"Sebab setiap ada pengumuman kematian, kakek selalu teringat firman Allah dalam Qur'an Surah al-ankabut yang berbunyi “Kullu nafsin dzaiqotul maut” Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kakek jadi bertanya, persiapan untuk menemui kematian apakah sudah cukup? Jika belum cukup tentu merugilah kita selama diberi kehidupan karena hanya bernilai kesia-siaan belaka."
"Jadi yang benar, itu saat mendengar kabar kematian selama yang meninggal itu muslim harusnya berbahagia dan mendoakan semoga almarhum/almarhumah diberi ampunan oleh Allah ya, Kek?"

"Seharusnya demikian, sebab dalam Hadis Riwayat Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairoh radhiallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, “Dua hal yang ada pada manusia dan keduanya menyebabkan mereka kafir: mengingkari keturunan dan meratapi kematian.”
"Jadi apa tidak diperbolehkan menangis, saat salah satu keluarganya meninggal?"

"Diperbolehkan, hal ini sesuai dengan Hadis Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas radhiallahu anhu bahwa ia berkata: Aku menyaksikan putri Rasulallah shallallahu alaihi wasallam dimakamkan dan Rasulallah shallallahu alahi wasallam duduk di atas kubur, dan aku melihat kedua matanya meneteskan air mata."

"Oooh begitu ya, Kek".
"Iya, tetapi ingatlah jangan sampai menjerit-jerit hingga mengeraskan suara, sebab yang demikian bermakna ratapan atau tindakan ketidakikhlasan atas takdir Allah mematikan hamba-Nya. ” []

FB: Arief Siddiq Razaan, 08 Oktober 2015
telegram