Bahasa Cinta Seorang Istri Kepada Suaminya

Suamiku, engkau tahu hal apa yang sulit kulakukan? Bukan menyiapkan makanan untukmu, bukan mengasuh anak-anak kita, bukan pula membersihkan rumah agar terlihat lebih bersih sebagaimana mestinya. Tetapi hal yang paling sulit kulakukan ialah menerjemahkanmu dalam bahasa.

Bagaimana mungkin diriku sanggup menerjemahkanmu dalam kata-kata, sedang tatapanmu ialah pandangan cinta, dekapanmu ialah pelukan cinta, kecupanmu ialah ciuman cinta, semua itu tak bisa kulukiskan dengan bahasa dan hanya mampu kuterjemahkan dalam rasa. Sebuah rasa yang mewajibkanku untuk memuliakanmu dalam segala.

Suamiku, kata-kata hanyalah mengartikan apa yang melintas dalam logika, sedangkan kecintaanku padamu sudah merasuk dalam jiwa. Pikiranku hanya berpaham sesuatu yang sudah menyatu dalam jiwa tidak perlu dialih wahanakan dalam bahasa. Bahasa terlalu sederhana untuk menafsirkan kecintaan yang sudah menyatu dalam debar jantung, menjadi napas yang menghidupkan. Menjadi kenyataan terbaik dalam bersyukur atas karunia cinta yang berikan oleh Sang Maha Pencipta.

Biarlah rasa cinta dalam jiwaku menjadi sebuah rahasia, sehingga hanya perbuatan mencintaku yang mejadi petanda bahwa telah kusediakan hidupmu untuk menjadi pendamping hidupmu dalam merengkuh kebaikan dalam segala. Terima kasih atas kesediaanmu memilihku sebagai karib rumah tangga, aku berjanji akan berusaha menjadi teman hidup sebaik mungkin yang setia dalam keadaan suka maupun duka. Sungguh, bertakdir menjadi istrimu merupakan jalan terbaik menjadi wanita seutuhnya! 
Penulis: Arief Siddiq Razaan
telegram