Begini Pesan Cinta Seorang Suami Kepada Istrinya

Sayang, hal terbaik dari hubungan jarak jauh itu saling merindukan dan saling mempercayai. Kita boleh terpisah ruang dan waktu, namun mencari nafkah adalah cara yang paling sederhana untuk mencintaimu. Pada lembaran rupiah yang kukirim, ada rindu yang membanjir-seperti keringatku yang begitu tulus menetes, mengalirkan kepercayaan bahwa saat ini di rumah kita, dirimu dan anak-anak sedang menanti kepulanganku dalam kesabaran yang paling teduh. Dalam kerinduan yang paling seluruh!

Sayang, hidup di perantauan itu menyiksa batin. Tetapi bukankah pemerian nafkah untukmu itu menyangkut lahir dan batin? Dahulu mungkin kita bisa berujar, sejengkal perut tiada artinya daripada ketulusan cinta. Namun kini kita harus menyadari sebuah realita, seindah apa pun defenisi cinta jika tidak mampu mengenyangkan perut anak-anak kita sesungguhnya itu tidak berarti apa-apa. Suami yang berpaham cinta tidak akan rela membiarkan istri dan anak-anaknya mati kelaparan, maka di bumi perantauan ini kusuburkan nafkah batin melalui kerja agar rezeki dimudahkan.

Asalkan nafkah lahir lancar mengalir, perut anak-anak kenyang, pendidikan terpenuhi maka perihal birahi sebagai sebagian kecil dari nafkah batin disimpan saja dahulu. Hingga waktu memberi ruang untuk meramu temu, memberi kesempatan menghangat cinta melalui cumbu dan rayu. Aku merindumu, istriku. Sangat merindu, sebab kutahu dirimulah pengandung, penglahir, dan pembesar peradaban-yang mewujud dalam anak-anak kita. Bukankah peradaban lahir dari keturunan? Sehingga dengan keturunan yang lahir dari rahimmu, aku telah menjadi penyokong peradaban lewat kesanggupan kerja. Kesediaan lahir batin memberi nafkah bagi keluarga kita dengan segala daya.

Sekali lagi, hal terbaik dalam hubungan jarak jauh itu saling merindukan dan saling mempercayai. Selalu rindukan aku dalam jantungmu-sebab kutahu hatimu hanya boleh dipenuhi doa, sedangkan kesucian doa-lah yang menyatukan debar di jantung kita untuk dapat menafsirkan rasa cinta. Biarlah kita saling menjantungnapaskan rindu, kelak hati yang telah dipenuhi doa akan menjadi saksi bagaimana kita saling berbagi napas dalam pagutan mesra yang membuncah asmara ketika pertemuan telah mewujud nyata. Bulan madu untuk kesekian kalinya, sebab aku selalu jatuh cinta padamu setiap kali kita berjumpa, tiada bosan untuk menikmati pergumulan kasih sayang yang diniatkan untuk pemerian nafkah batin dalam berumah tangga.
Penulis: Arief Siddiq Razaan
telegram