Kisah: "Mengaji dan Doakan Ayahmu, Nak..."

Pemuda itu betul-betul kelewat batas, baru satu hari ayahnya meninggal, dia malah bermain gitar di halaman rumahnya sembari menyanyikan lagu-lagu pop masa kini. Sebenarnya saat sebelum ayahnya meninggal, hal yang dilakukan pemuda itu biasa saja. Maklumlah, ayahnya musisi kenamaan sehingga wajar saja apabila bakat seni musik menurun padanya. Tetapi bermain gitar dan menyanyi padahal pemakaman almarhum ayahnya baru satu hari jelas menimbulkan pergunjingan di kalangan tetangga. Hal itu membuat ibunya perlu memberi nasehat.

"Anakku, janganlah bermain gitar. Ini masih suasana berkabung, selain itu sekarang orang-orang sedang ibadah Magrib. Tidak enak dilihat tetangga," ujar sang Ibu dengan penuh kelembutan.
"Dahulu semasa almarhum ayah masih hidup, kenapa tidak pernah melarangku bermain gitar? Bukankah wasiat ayah ingin aku menjadi musisi, jadi apa yang kulakukan ini juga untuk menenuhi amanahnya."
"Benar, ayahmu memang mengharapkanmu menjadi seorang musisi. Tetapi ini baru sehari pemakaman ayahmu, harusnya dirimu mengaji dan berdoa untuk almarhum. Berlatih musiknya nanti saja."

"Ibu kan tahu, sejak kecil ayah hanya mengajariku bermain musik, tidak pernah mengajariku membaca Al-Qur'an. Jadi bagaimana bisa diriku mengaji, kalau baca Al-Qur'an saja tidak bisa?"

Ibunya terdiam. Apa yang dikatakan anaknya memang benar, semasa hidup, suaminya menganggap musik itu segala-galanya. Buktinya suaminya disegani mayarakat karena menjadi musisi terkenal.
"Ibu tahu tidak? Kadang-kadang aku merasa malu kepada anak-anak yang usianya lebih muda dariku tetapi sudah bisa membaca Al-Qur'an. Mereka terlihat bahagia sekali, sedangkan aku, huruf hijaiyah saja masih belum hafal." Sang anak kembali melanjutkan ucapannya.

"Maafkan Ibu dan almarhum ayah, sungguh kini ibu baru sadar mengarahkanmu sebagai seorang musisi itu kemauan kami. Ambisi kami agar dirimu bisa menjadi penerus di bidang musik dalam silsilah keluarga kita. Padahal, pengetahuan agama itu juga penting."

"Aku merindukan Allah, Bu. Sungguh, kehilangan ayah membuatku terpukul, pada saat seperti ini aku betul-betul merasakan kesendirian. Tahu tidak, di rumah kita ada barang yang tidak ditemukan. Sajadah dan Al-Qur'an! Iya, sajadah. Tempat terbaik untuk mengadukan segala masalah di hadapan Allah, alat yang harusnya terlihat megah saat di bawa ke masjid. Al-Qur'an sebagai tempat berhimpunnya doa-doa bagi ketenangan batin."

Keadaan semakin penuh keharuan. Air mata yang semula menggerimis telah mewujud hujan tanggis.
"Ibu sungguh menyesal, Nak. Kami hanya fokus mendidikmu sebagai seseorang yang terpandang dunia, agar dikenal karena kesuksesanmu menjadi musisi yang melegenda. Saat pemakaman ayahmu tadi, Ibu juga baru sadar walau terkenal seperti apa pun, pada akhirnya akan berpulang kepada Sang Maha Pencipta."

Azan Isya berkumandang. Suara yang selama ini kerap mereka dengar menjadi penuh kegaiban yang tak mampu diterjemahkan.

"Ibu, ayo kita ke masjid. Semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk bertaubat, agar kita bisa mendoakan almarhum ayah. Agar aku bisa memulai sebuah cita-cita yang selama ini kurindukan, membaca Al-Qur'an. Sebagai bekal dalam berkehidupan" []
Penulis: Arief Siddiq Razaan
telegram