Pandanglah Pembenci dengan Keberkahan dan Kasih Sayang

Apabila ada saudara sesama muslim yang mendatangkan kebencian, maka tidak perlu membalasnya dengan rasa benci. Percayalah menjadi pembenci hanya akan membuat hidupmu tidak tenang. Cukuplah sabar, karena hanya dengan kesabaran dirimu akan melihat manusia dengan ain rahmat dan ain luthafa, pandangan keberkahan dan kasih sayang.

Bagaimana pun saudara sesama muslim membencimu, hakikatnya ia tetaplah saudaramu. Sebagai seorang saudara, melihat kebencian mesti mengupayakan untuk mencermin pada diri sendiri, atas dasar apa kebencian itu datang? Bisa jadi kebencian itu dilatarbelakangi kepekaanmu yang berkurang, atau rendahnya silahturahmi yang dirimu hidupkan sehinngga mematikan rasa persaudaraan itu sendiri.

Semakin besar rasa benci seseorang padamu, semakin besar pula potensi kecintaannya padamu. Di balik kebencian yang dihadirkannya, menunjukkan kepedulian yang lebih atas segala hal yang dirimu lakukan. Pembenci menghadirkan koreksi atas perilaku yang dirimu lakukan, bukankah itu teguran terbaik untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam berkehidupan?
Cinta tidak harus diwujudkan dengan kesukaan, tetapi juga bisa mewujud kebencian selama ada landasan pijak bahwa rasa benci itu bermula dari rendahnya kesanggupan dirimu bertanggungjawab ahlak dan tindak dalam memuliakan orang lain sebagaimana mestinya. Seseorang yang membencimu bisa jadi belum dirimu muliakan, cobalah untuk mengingat-ingat segala kemungkinan mengapa seseorang itu mesti menunjukkan rasa cintanya padamu lewat kebencian.

Apabila telah menemukan segala kemungkinan itu, segeralah perbaiki hal yang dirimu yakini membuatnya benci denganmu, barangkali dengan cara demikian saudaramu itu akan mengerti, sesungguhnya dirimu telah berproses untuk intropeksi, mengkaji diri sendiri lebih dalam untuk memberi penyadaran bahwa dirimu tidaklah seperti yang disangkakan.

Sebagai seorang muslim yang baik, kita diharapkan lebih mengutamakan berprasangka baik daripada berprasangka buruk, sehingga menjadikan rasa benci yang datang sebagai jalan terbaik untuk menumbuhkan kecintaan ialah pilihan paling bijaksana. Sulit sudah pasti, tetapi apabila dirimu membalas kebencian dengan cara membenci pula justru akan semakin sulit, sebab selama kebencian itu masih tumbuh di antara dua hati sesama muslim tentu akan menjadi musibah yang menjadikan ke dua muslim tersebut buruk adanya.

Selamat berusaha menjadi pribadi yang terdepan dalam kesabaran dan kebijaksanaan. Dengan satu harapan, semoga kemuliaan datang padamu sebagai bentuk balasan. Jangan lupa, doakan pembencimu agar dibuka mata jiwanya untuk memandangmu sebagai saudara yang mencintainya sekaligus sebagai keberkahan dan kasih sayang. Puncak dari kesabaran itu doa yang tulus, sebab ketulusan menjadi kekuatan untuk berdamai dengan keadaan.
Penulis: Arief Siddiq Razaan
telegram