Jika Ibumu Memakai Rok Mini dan Baju Ketat, Bagaimana Menurutmu?

Nona-nona cantik bolehkah aku bertanya padamu. Jika ibumu memakai rok mini dan baju ketat apa yang melintas dalam pikirmu? Jijikkah atau mengatakan perbuatan beliau sangat tak tahu malu? Lalu apa bedanya dengan dirimu yang begitu bangganya mempertontonkan auratmu. Padahal dirimu juga seorang calon ibu. Justru karena dirimu belum menikah harus lebih tahu malu. Bukankah tubuh indahmu belum resmi dimilki seorang lelaki di depan penghulu?

Nona-nona cantik renungkanlah nasehat yang kuujar setulus kalbu. Kecantikan sejati justru terletak pada iman yang meneguh dalam hatimu. Pesona rupa hanya berbatas waktu, pesona takwa itulah modal utamamu. Jika anggun wajah diobral murah seperti itu, lalu apalagi yang dapat dibanggakan untuk masa depan rumah tanggamu? Sedang lekuk tubuhmu sudah terjamah tatapan nafsu lelaki yang belum resmi menikahimu.

Nona-nona cantik sudahi tindakan konyol seperti itu. Lelaki menatap lekuk tubuhmu karena kebodohan tingkah lakumu, Jangan dipikir puluhan lelaki yang memandang itu akibat terbius auramu, sebab yang ada dalam pikiran mereka justru 'perempuan model begini cuma bisa dijadikan simpanan dan tidak pantas jadi istri serta calon ibu.' 

Apa jadinya kalau menikah dengan perempuan yang sopan santun saja belum dikarib ajar sepenuh ilmu. Bisa-bisa anak yang dilahirkan dari rahimnya kelak juga diajari bertabiat 'umbar kemolekan tubuh' yang lebih menjurus menjual diri untuk mendapatkan imbalan pujian seakan-akan pesonanya meruntuhkan kalbu.

Nona-noa cantik demikian saja petuah sederhana untukmu. Kalau ditelaah tentu akan membawa manfaat besar bagi derajatmu selaku calon istri sekaligus calon ibu. Apabila tidak ditelaah itu juga terserah bagimu, coba bercermin serta tanya diri sendiri; masih waraskah otak yang membenam dalam kepalamu? 

Jika waras mestinya sadar kalau mengumbar aurat itu menunjukkan mental melacurkan diri sudah tertanam dalam dirimu. Segera sadar selagi masih ada waktu, semoga Allah memudahkan niat taubat nasuha yang menyatu dalam desah napas penghidupanmu.

Penulis: Arief Siddiq Razaan, 26 Desember 2015
telegram