Ketahuilah Obat Patah Hati Ialah Jatuh Cinta Lagi

Aku kasihan padamu, Sam. Menyedihkan melihatmu saban hari menjadi seorang pesakitan cinta yang membahasakan luka. Masih berharap memiliki perempuan yang kau sebut dengan Ra, padahal kutahu dengan pasti dia telah pergi. Menabahlah, Sam... Benahi kehidupanmu, masih banyak peluang untuk menyembuhkan luka yang menghunjam jiwa. Ketahuilah, obat patah hati ialah jatuh cinta lagi. Cukup sudah air matamu menderas untuk memuara dukacita, jangan lupakan bahwa masih banyak perempuan yang lebih terhormat untuk engkau anugerahi kasih sayang daripada menangisi seseorang yang tidak menghargai ketulusanmu.

Dirimu lelaki penyair, tetapi apabila sihir kata-katamu hanya tertuju pada satu sudut pandang niscaya proses kreatifmu tidak berkembang. Masih banyak hal yang bisa engkau tuliskan, tidak terus-terusan mengulas perempuan yang menjelmakanmu menjadi pesakitan. Cinta sejati hanya ada setelah pernikahan, hal terpenting mencintai seseorang yang dinikahi daripada berharap pada seseorang yang tega menghianati abdi kasih suci di relung sanubari.

Aku tidak melarangmu meneteskan air mata sebagai doa peneduh cinta, namun jangan sia-siakan air matamu untuk seorang perempuan yang membuatmu seakan tiada berguna. Sampai kapan pikiranmu terpenjara masa lalu, bebaskan dirimu dengan segera sebelum kegilaanmu tak dapat tersembuhkan. Masih belum terlambat, cobalah jatuh cinta lagi. Biarkan hatimu dimasuki seseorang yang lebih menghargaimu sebagai lelaki.

Penyair terlahir untuk menciptakan peradaban lewat karya, apabila untaian kata-katamu hanya dibelenggu satu objek saja akan menunjukkan dirimu belum mendewasa sebagai peracik kosakata. Bangkit! Tegakkan kepala, tataplah dunia serta tuliskan hal-hal lain agar diksimu mengalami peningkatan. Hentikan segala bentuk ratapan, sebab aku mulai khawatir perempuan-perempuan yang kagum padamu akan mulai bosan akibat dirimu terlalu lemah menjadi lelaki.

Dirimu tidak jelek, haruskah hilang kepercayaan? Lagipula cinta tidak semata soal rupa, tetapi juga menyangkut kedewasaanmu dalam membijaksanakan penghidupan. Apabila dirimu masih belum beranjak dari kenangan, berarti saat ini masih terjebak masa kekanak-kanakan. Cobalah memohon pertolongan-Nya agar luka di hatimu tersembuhkan, sebagai saudara aku meyakini dirimu mampu melakukannya.

Perlahan namun pasti, buanglah Ra dari ingatan. Tuliskan hal-hal lain agar proses kreatifmu mengalami perkembangan. Apabila belum mampu, sejujurnya diriku meragu apakah dirimu layak menjadi calon penulis masa depan, alasannya dirimu masih terjebak masa lalu-masih begitu mudahnya terbawa arus perasaan akibat kenangan.
Penulis: Arief Siddiq Razaan
telegram