Mengorbankan Diri Sendiri untuk Seseorang yang Dicinta Bernilai Keburukan

Cinta itu tentang bagaimana membuat seseorang yang disayangi merasa nyaman saat berada di sisi kita. Berupaya agar menjelmakan kita sebagai rumah yang selalu dijadikan tempat untuk meramu kepulangan. Menjadi alasan terbaik berbagi suka dan duka. Tersenyum dan menangis bersama, lalu berkata, "semua akan baik-baik saja, apabila melewatinya bersama-sama." Sejatinya kesanggupan menguatkan satu sama lain itulah alasan terbaik untuk lebih menghargai arti sebuah kehadiran.
Cinta itu tentang proses membahagiakan diri sendiri serta menyakinkan orang yang disayangi untuk berbuat demikian pula. Kita tidak perlu meminta kebahagiaan dari seseorang yang dicinta, sebab itu justru menjadi sebuah beban. Padahal apabila ingin menjadi pecinta yan cerdas, semestinya mampu berjiwa mandiri dalam berkarib ajar kebahagiaan. 

Andaipun ada kesalingmengertian itu bukan upaya bersedekah kebahagiaan kepada salah satu pihak, namun tanggungjawab moral untuk berjuang agar sama-sama berbahagia sebab apabila salah satu pihak mengorbankan kebahagiaan untuk pihak yang lain berarti tidak terjadi keseimbangan berkasihsayang.

Cinta itu tentang memahami bahwa mengorbankan diri sendiri untuk membahagiakan seseorang yang dicinta ialah sebentuk ajar bernilai keburukan. Apabila hal itu terjadi, masihkah kita layak disebut pecinta sejati? Tidak bisa, sebab dengan tindakan demikian membuat seseorang yang dicinta diajari menjadi pribadi yang egois. Padahal keegoisan merupakan salah satu yang membuat kesucian cinta menjadi ternoda. 

Ikhlas mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi seseorang yang dicinta itu mengajarkan sebuah keburukan, yakni kemalasan kerja bahagia dalam diri pasangan kita. Akhirnya pasangan kita akan berpikir, bahagia itu mudah dicapai tanpa melalui usaha dan kerja keras, cukup menuntut dari kita.

Cinta itu tentang kesepakatan dua hati lebih giat untuk menjadikan satu sama lain menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan ajarkan kemalasan dengan melakukan penyuapan-penyuapan kebahagiaan tanpa melalui usaha. Cerdaskan pasangan dan jangan menjadikan kita sebegitu bodoh dalam memaknai apa itu cinta. Ajarkanlah bagaimana pengajaran terbaik dalam mencapai kebijaksanaan sebagai pecinta. 

Semoga dengan kesediaan jabat jiwa-raga pecinta sejati dalam mencapai bahagia akan melanggengkan ikhtiar kasih sayang untuk selamanya.

Penulis: Arief Siddiq Razaan, 31 Desember 2015
telegram