Ini Fakta Menarik di Balik Tragedi Bom Sarinah Jakarta

Ada fakta menarik yang terjadi pada saat terjadinya tragedi bom yang meledak di Sarinah. Dimulai dari seorang kakek penjual sate yang begitu tenang berjualan meski hanya berjarak 100 meter dari lokasi kejadian. Hal ini ramai diperbincangkan setelah foto sang kakek tersebar melalui jejaring sosial, bahkan ada yang berkomentar dengan kalimat dalam bahasa Inggris yang kurang kurang lebih bermakna, "Bilik sate ini hanya sekitar 100 meter dari daerah serangan teroris dalam kurun waktu hanya 2 jam setelah kejadian, dan orang-orang terus memesan sate. Ini adalah Jakarta, Anda tidak bisa teror orang Jakarta. Tidak ada kata takut dalam kamus kami."

Perjuangan sang kakek yang penjual sate yang dengan berani berjualan padahal kondisi masih belum benar-benar dinyatakan aman jelas sangat mengundang decak kekaguman. Betul kata pepatah, sekeras-kerasnya ibu tiri ternyata jauh lebih keras ibu kota. Jelas sekali meski keadaan belum aman, namun mengais nafkah di lokasi petaka mau tak mau mesti dilakukan.


Fakta menarik lainnya adalah masyarakat justru menonton adegan tembak menembak dalam jarak dekat. Seperti sedang menyaksikan syuting film layar lebar. Bahkan di foto yang lain, polisi sibuk menyembunyikan diri di belakang sebuah mobil sedangkan masyarakat tenang-tenang saja mengerumun di bagian belakang seolah tidak merasa terancam sama sekali.

Barangkali fakta berikutnya yang tak bisa dilewatkan adalah munculnya pahlawan berseragam Go-Jek yang menyelamatkan salah seorang wanita dari lokasi kejadian. Entah siapa yang begitu luar biasanya mengambil objek foto tersebut, namun hasil bidikannya akan menjadi iklan yang sangat mendukung kemajuan sarana transportasi yang sempat dipermasalahkan. Bahkan mengutip pemberitaan pada laman Tempo (14/01/2016), akibat dari kejadian tersebut perusahaan Go-Jek memberi tumpangan gratis khusus wilayah Jabodetabek

Begitulah fakta-fakta menarik yang patut untuk diketahui di balik tragedi bom Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, yang terjadi pada hari Kamis 14 Januari 2016.
Oleh: Arief Siddiq Razaan



telegram