Mahasiswa : Bentuk Kejahatan Yang Hakiki Adalah Saat Kita Mendiamkan Kejahatan Itu Terus Terjadi

Jakarta, (20 /4/2016). Dinginnya air hujan yang membasahi ibu kota dipagi hari sama sekali tidak menyurutkan semangat para Presiden Mahasiswa BEM Se-Jabodetabek & Banten.

Kami berkumpul di balai kota untuk menunggu gubernur DKI Jakarta, bapak Ahok. Dengan niat beraudiensi dengan bapak ahok kami berbincang kurang lebih hanya sekitar 2-3 menit, dengan kondisi yang ramai dan tidak kondusif keinginan kami untuk menyampaikan maksud dan tujuan kami tidak tersampaikan. Eskalasi pergerakan kami tidak berhenti sampai disitu, dengan surat audiensi yang dimuntahkan kembali pada Jumat 15 April kami tetap mengupayakan untuk bertemu dengan Ahok. Sampailah kita pada informasi jadwal bapak Ahok ada pada jam 14.00 untuk bertemu dengan mahasiswa Pancasila untuk audiensi mengenai pembangunan rusunawa, kami berharap dapat bergabung dalam audiensi tersebut dan membagi tugas beberapa dari kami ada yang tetap didalam untuk mencari tahu informasi sementara saya keluar untuk memimpin aksi di luar.

Pukul 11.00 tepat mobil sound dan massa aksi kami datang di depan balai kota jakarta menandakan aksi kami dimulai, orasi demi orasipun disampaikan oleh para orator dari tiap kampus.


Adzan Zuhur berkumandang tanda bahwa massa aksi yang muslim untuk shalat dan kamipun memberhentikan aksi kami, sungguh mengagetkan kami ketika aparat keamanan tidak mengizinkan kami masuk untuk shalat di Masjid Fatahilah Balai kota dengan alasan keamanan. "Kami hanya menjalankan tugas dan instruksi dari atasan (Ahok)" ucap aparat kepolisian, bahkan ketika kami menawarkan untuk tetap dikawal dalam perjalanan kami secara jumlah kami cukup jauh jika dibanding para polisi yang berjaga kala itu. Kekecewaan dan kegeraman kami memuncak saat itu karena bahkan untuk shalatpun tidak diperbolehkan walau dengan pengawalan, kamipun akhirnya shalat di IRTI dan saya dengan beberapa rekan memutuskan untuk shalat tepat didepan pagar Balai Kota.
BACA JUGA : 

Putri Pak Harto Bicara Karma Sambil Unggah Foto Ayahnya Bercucuran Air Mata

Seusai Shalat saya memutuskan untuk masuk kedalam lewat pagar depan dengan melepas jaket almamater saya dan berhasilah saya masuk dengan izin penjaga, sepanjang perjalanan nampak pemandangan Ratusan aparat kepolisian sedang berbaris yang saya yakin ketika itu mereka juga melihat saya.

Sungguh hal yang menyedihkan ketika media dalam beritanya mengatakan bahwa kami menyusup dan pura-pura shalat untuk sampai di balai kota.

Langsung saja saya dan kawan-kawan di dalam membangun eskalasi kembali seraya di luar Korpus BEM SI kami memimpin aksi di luar.

Jam 14.00 tiba kami langsung pergi ke depan kantor balaikota meminta untuk bertemu dengan ahok, setelah berdebat cukup panjang dengan wakapolsek serta para satuan keamanan kami tetap tidak diterima masuk. Saya dan kawan-kawan yang mengetahui ahok ada didalam karena jadwal ahok yang memang sedang menerima audiensi dengan mahasiswa UP  tersebut maka kami bersi keras tetap ingin masuk kedalam dan menunggu sampai ahok keluar dan mau menerima kami.

Tapi apadaya kamipun langsung diringkus kepolisian, Leher kami dicekik dan kami diseret keluar. Dengan perlawanan yang kami berikan cengkeramannya pun semakin kuat, sungguh menyedihkan kami bentuk dari representasi warga yang terkena penggusuran dan nelayan yang tertindas karena proyek reklamasi harus mengalami sesaknya nafas saat diringkus kepolisian.

Sampailah kami diluar untuk menyatakan sikap dan bentuk kekecewaan terhadap wajah ibukota yang dihantui oleh penindasan dan kata-kata kasar pemimpinnya.

Aksi kami lanjutkan dengan longmarch ke gedung DPRD untuk aksi dan audiensi, kami diterima dengan baik oleh petugas humas karena Ketua DPRD sedang tidak didalam karena sedang keluar untuk kunjungan.

Kami memberikan aspirasi kami dengan tegas bahwasanya DPRD tidak tegas dalam melakukan tugasnya selaku badan legislatif, kamipun meminta DPRD untuk menfasilitasi kami bertemu dengan bapak gubrnur dan ketua dprd dalam satu forum.

Aksi kami tutup dengan sebuah pekikan semangat kami dan dengan ucapan terimakasih kami kepada para aparat kepolisian.

Sejatinya disaat penindasan dan tuntutan kami tidak digubris, kami BEM Se-Jabodetabek akan tetap terus mengawal pemerintahan tirani ini.

Karena bentuk kejahatan yang hakiki adalah saat kita mendiamkan kejahatan itu terus terjadi.

Salam hangat dari saya, Koordinator Wilayah BEM Se-Jabodetabek & Banten.

Ttd
Malvin Pradipta Irianto.


Sumber :  http://www.mahasiswanews.com/2016/04/mahasiswa-bentuk-kejahatan-yang-hakiki.html
BACA JUGA : 

Reklamasi, Apa Manfaatnya?

telegram