Reklamasi, Apa Manfaatnya?

SEBAGAIMANA masyarakat dan publik ketahui, bahwa mega proyek reklamasi pulau-pulau buatan dan reklamasi pesisir pantai diteluk Jakarta telah dimulai. Proyek yang sebelumnya bernama JCDS (Jakarta Coastal Defence Strategies) berganti nama menjadi tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall/ Outer Sea Wall), dan atau juga dinamakan sebagai proyek NCICD (National Capital Integrated Coastal Development- Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara).

Di dalam konsep pembangunan proyek Giant Sea Wall atau NCICD, terdapat rencana pekerjaan reklamasi 17 pulau buatan, dengan kode nama; pulau A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, dan pulau Q. Reklamasi tersebut melibatkan pengembang ternama dari unsur swasta dan pemerintah yang masing-masing pengembang mendapatkan kapling pantai dan laut untuk membangun reklamasi pantai dan pulau dilautan, yang diperkirakan menghasilkan lebih dari 51 ribu hektar lahan baru, dengan total perkiraan menelan anggaran mencapai 500-600 triliun. Pengembang yang telah mengkapling dan menguasai pesisir dan laut Jakarta tersebut diantaranya adalah grup dari Agung Sedayu (ASG) dan grup dari Agung Podomoro (APG).
Dari fakta tersebut kita bisa melihat akan adanya pembangunan besar-besaran di ibukota Indonesia ini. Jika kita ingin memikirkan manfaat yang didapat dari reklamasi ini, ternyata yang di dapat cenderung dampak negatif.
Sekarang bisa dilihat kondisi Jakarta sendiri yang sudah begitu padat penduduk, bangunan dan kemacetan dimana-mana yang sudah dipastikan juga memiliki tingkat polusi yang tinggi, dengan reklamasi untuk pembangunan apartemen ini dipastikan bertambah padatnya penduduk dan bangunan di Jakarta.
Padahal, banyak wilayah dan daerah di Indonesia yang masih jauh dari pembangunan, bahkan masih ada daerah yang belum tersentuh listrik, mengapa tidak di daerah itu saja pemerintah melakukan pembangunan untuk memajukan daerah tersebut. Jakarta merupakan ibukota Indonesia, tempat orang-orang penting berada, tempat yang sering dikunjungi banyak orang termasuk orang luar negeri.
Karenanya alasan pasti pemerintah melakukan reklamasi di Jakarta karena tempatnya yang strategis dan banyak dikunjungi oleh orang-orang yang ber-uang, reklamasi ini tidak lain hanya untuk kepentingan bisnis semata, hanya orang-orang yang berduit saja yang bisa tinggal di apartemen mewah dengan harga jutaan. Terlihat jelas bahwa adanya reklamasi ini sama sekali bukan untuk kepentingan rakyat, mana mungkin rakyat biasa dengan penghasilan satu bulan yang rata-rata kurang dari satu juta, bisa membeli kamar apartemen yang satu malamnya berharga jutaan.
Berbeda jika kita melihat syariat islam yang tidak membolehkan pulau sebagai aset pribadi, seharusnya pulau tersebut hanya boleh dikelola oleh negara, adapun keuntungan yang di dapat dari hasil sumber daya alam yang ada di pulau tersebut, keuntungan tersebut masuk kepada kas negara dan digunakan untuk kepentingan rakyat. Alangkah indahnya jika negara kita dapat mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya dengan cara menerapkan syariat Islam yang dapat mensejahterakan rakyatnya karena aturannya yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. 
Sumber : https://www.islampos.com/273428-273428/
telegram