Bantu Sebarkan!!! Jutaan Remaja Berpacaran Akan Putus Setelah Membaca Ini ...

Cinta kepada lain jenis adalah hal yang fitrah untuk manusia. Karena sebab cintalah, keberlangsungan hidup manusia dapat terbangun. Oleh karenanya, Allah Ta’ala jadikan wanita sebagai perhiasan dunia serta kesenangan untuk penghuni surga. Islam sebagai agama yang sempurna juga sudah mengatur bagaimana menyalurkan fitrah cinta itu dalam syariatnya yang rahmatan lil ‘alamin.
Tetapi, bagaimana bila cinta itu disalurkan dengan cara yg tidak syar`i? Fenomena tersebut yang menempa hampir sebagian besar anak muda sekarang ini. Penyaluran cinta ala mereka umum dimaksud dengan pacaran. Tersebut disini sebagian tinjauan syari’at Islam tentang pacaran.

Ajaran Islam Melarang Mendekati Zina Allah Ta’ala berfirman (yang berarti), “Dan jangan sampai anda mendekati zina ; sebenarnya zina itu yaitu satu perbuatan yang keji. Serta satu jalan yang jelek. ” (QS. Al Isro’ 17 : 32)


Dalam Tafsir Jalalain disebutkan kalau larangan dalam ayat ini lebih keras dari pada pengucapan ‘Janganlah melakukannya’. Berarti kalau bila kita mendekati zina saja tak boleh, terlebih hingga lakukan zina, sebagian jelas lebih terlarang. Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, sudah pasti maksudnya juga haram diliat dari maksud pembicaraan. ”


Diliat dari pengucapan Asy Syaukani ini, jadi kita bisa simpulkan kalau tiap-tiap jalan (penghubung) menuju zina yaitu satu yang terlarang. Ini bermakna melihat, berjabat tangan, berduaan serta bentuk perbuatan lain yang dikerjakan dengan lawan type lantaran hal semacam itu sebagai penghubung pada zina yaitu satu hal yang terlarang.

Islam Memerintahkan untuk Menundukkan Pandangan Allah memerintahkan golongan muslimin untuk menundukkan pandangan saat lihat lawan type. Allah Ta’ala berfirman (yang berarti), “Katakanlah pada laki–laki yang beriman : ”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya serta pelihara kemaluannya. ” (QS. An Nuur 24 : 30)


Dalam kelanjutan ayat ini, Allah juga berfirman, “Katakanlah pada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, serta kemaluannya” (QS. An Nuur 24 : 31)


Ibnu Katsir saat menafsirkan ayat pertama diatas menyampaikan, ”Ayat ini adalah perintah Allah Ta’ala pada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari beberapa hal yang haram. Jangan sampai mereka lihat terkecuali pada apa yang dihalalkan untuk mereka untuk diliat (yakni pada istri serta mahromnya). Sebaiknya mereka juga menundukkan pandangan dari beberapa hal yang haram. Bila memanglah mereka mendadak lihat suatu hal yang haram itu dengan tak berniat, jadi sebaiknya mereka memalingkan pandangannya dengan selekasnya. ”

Saat menafsirkan ayat ke-2 diatas, Ibnu Katsir juga menyampaikan, ”Firman Allah (yang berarti) ‘katakanlah pada wanita-wanita yang beriman : sebaiknya mereka menundukkan pandangan mereka’ yakni sebaiknya mereka menundukkannya dari apa yang Allah haramkan dengan lihat pada orang lain terkecuali suaminya. Oleh karenanya, sebagian besar ulama memiliki pendapat kalau tak bisa seseorang wanita lihat lelaki lain (terkecuali suami atau mahromnya, pen) baik dengan syahwat serta tanpa ada syahwat. … Beberapa ulama yang lain memiliki pendapat mengenai bolehnya lihat lelaki lain dengan tanpa ada syahwat. ”

Lantas bagaimana bila kita tak berniat melihat lawan type?
Dari Jarir bin Abdillah, beliau menyampaikan, “Aku ajukan pertanyaan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang hanya selintas (tak berniat). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku supaya saya selekasnya memalingkan pandanganku. ” (HR. Muslim no. 5770)


Manfaat dari menundukkan pandangan, seperti difirmankan Allah dalam surat An Nur ayat 30 (yang berarti) “yang sekian itu yaitu lebih suci untuk mereka” yakni dengan menundukkan pandangan semakin lebih bersihkan hati serta lebih melindungi agama beberapa orang yang beriman. Berikut yang disebutkan oleh Ibnu Katsir –semoga Allah merahmati beliau- saat menafsirkan ayat ini. –Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menundukkan pandangan hingga hati serta agama kita senantiasa terbangun kesuciannya.

Agama Islam Melarang Berduaan dengan Lawan Type Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seseorang lelaki berduaan dengan seseorang wanita terkecuali bila berbarengan mahromnya. ” (HR. Bukhari, no. 5233). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seseorang lelaki berduaan dengan seseorang wanita yg tidak halal baginya lantaran sebenarnya syaithan yaitu orang ketiga diantara mereka berdua terkecuali jika berbarengan mahromnya. ” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyampaikan hadits ini shohih ligoirihi)

Jabat Tangan dengan Lawan Type Termasuk juga yang Dilarang Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam sudah ditakdirkan sisi untuk berzina serta ini satu yang tentu berlangsung, tak dapat tak. Zina

ke-2 mata yaitu dengan lihat. Zina ke-2 telinga dengan mendengar. Zina lisan yaitu dengan bicara. Zina tangan yaitu dengan meraba (menyentuh). Zina kaki yaitu dengan mengambil langkah. Zina hati yaitu dengan inginkan serta berangan-angan. Lantas kemaluanlah yang kelak bakal membetulkan atau memungkiri yang sekian. ” (HR. Muslim no. 6925)


Bila kita lihat pada hadits diatas, menyentuh lawan type -yang bukanlah istri atau mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal semacam ini bermakna menyentuh lawan type yaitu perbuatan yang haram lantaran berdasar pada kaedah ushul “apabila suatu hal diberi nama dengan suatu hal lain yang haram, jadi tunjukkan kalau perbuatan itu yaitu haram”.

Meninjau Fenomena Pacaran Sesudah pemaparan kami diatas, bila kita meninjau fenomena pacaran sekarang ini tentu ada perbuatan-perbuatan yang dilarang diatas. Kita bisa lihat kalau bentuk pacaran dapat mendekati zina. Awal mulanya dengan diawali pandangan mata terlebih dulu. Lantas pandangan itu mengendap di hati.

Lalu muncul keinginan untuk jalan berdua. Lantas berani berdua-duan ditempat yang sepi. Kemudian bersentuhan dengan pasangan. Lantas dilanjutkan dengan ciuman. Pada akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. –Naudzu billahi min dzalik-.Lantas pintu mana lagi paling lebar serta paling dekat dengan ruangan perzinaan melebihi pintu pacaran?!

Mungkinkah ada pacaran Islami? Sungguh, pacaran yang dikerjakan sekarang ini bahkan juga yang dilabeli dengan ’pacaran Islami’ mustahil dapat terlepas dari larangan-larangan diatas. Renungkan hal semacam ini!

Tidak mungkin Ada Pacaran Islami Salah seseorang dai terpenting pernah di tanya, ”Ngomong-ngomong, dahulu ayah dengan ibu, tujuannya sebelumnya nikah, apa pernah berpacaran? ” Dengan diplomatis, si dai menjawab, ”Pacaran seperti apa dahulu? Kami dahulu juga berpacaran, namun berpacaran dengan cara Islami. Lho, bagaimana langkahnya? Kami juga kerap jalan-jalan ke tempat rekreasi, namun tidak pernah ngumpet berduaan. Kami juga tidak pernah lakukan yang bebrapa tidak, ciuman, pelukan, terlebih –wal ‘iyyadzubillah- berzina.

Nuansa memikirkan seperti itu, nampaknya tidak cuma punya si dai. Banyak kelompok golongan muslimin yang masihlah berpandangan, kalau pacaran itu boleh-boleh saja, seandainya tetaplah melindungi diri semasing. Ungkapan itu seperti kalimat, “Mandi bisa, asal janganlah basah. ” Ungkapan yang intinya tak berwujud. Lantaran berpacaran tersebut, dalam arti apa pun yang dipahami beberapa orang saat ini, tidaklah dibenarkan dalam Islam. Terkecuali bila sebatas lakukan nadzar (lihat calon istri sebelumnya dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dikira sebagai pacaran. Atau sekurang-kurangnya, diistilahkan sekian.

Tetapi itu sungguh adalah perancuan arti. Arti pacaran telah kadong dipahami sebagai jalinan lebih intim pada sepasang kekasih, yang diterapkan dengan jalan bareng, berjalan-jalan, sama-sama mengirim surat, ber SMS ria, serta beragam hal-hal lain, yang beberapa terang disisipi banyaknya beberapa hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, serta banyak beberapa hal lain yang bertentangan dengan syariat. Apabila lalu ada arti pacaran yang Islami, sama seperti dengan memaksakan ada arti, meneggak minuman keras yang Islami. Mungkin saja, lantaran minuman keras itu di tenggak didalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, serta semacamnya. Jikalau ada kesibukan spesifik yang halal, lalu di labeli beberapa nama perbuatan haram itu, terang sangat dipaksakan, serta sekalipun tak berguna.

Pacaran Paling baik yaitu Sesudah Nikah
Islam yang prima sudah mengatur jalinan dengan lawan type. Jalinan ini sudah ditata dalam syariat suci yakni pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga tidaklah yang dengan diawali pacaran, namun dengan mengetahui ciri-ciri calon pasangan tanpa ada tidak mematuhi syariat. Lewat pernikahan berikut bakal dirasa percintaan yang hakiki serta tidak sama dengan pacaran yang cintanya cuma cinta bualan.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tak pernah tahu jalan keluar untuk dua orang yang sama-sama menyukai seumpama pernikahan. ” (HR. Ibnu Majah no. 1920.)

Bila belum dapat menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dapat untuk menikah, jadi menikahlah. Karenanya lebih bakal menundukkan pandangan serta lebih melindungi kemaluan. Barangsiapa yang belum dapat, jadi berpuasalah lantaran puasa itu seperti kebiri. ” (HR. Bukhari serta Muslim)

Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa ada pernikahan yaitu haram serta mengakibatkan kerusakan cinta, jadi cinta diantara keduanya bakal selesai dengan sikap sama-sama membenci serta bermusuhan, lantaran apabila keduanya sudah rasakan kelezatan serta cita rasa cinta, tak dapat akan tidak muncul hasrat lain yang belum diperolehnya. ”

Cinta sejati bakal didapati dalam pernikahan yang didasari oleh rasa cinta pada-Nya. Semoga Allah mempermudah kita semuanya untuk menggerakkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allahumma inna nas’aluka ’ilman nafi’a wa rizqon thoyyiban wa ’amalan mutaqobbbalan.

Sumber : http://hamba-surga.blogspot
telegram