Istri Jadi TKW Karena Hutang Suami, Tetapi Suami Malah Nikah Lagi... Astagfirullah!!

“Kapan kalian akan mengembalikan uang kami?!” seru salah seorang anggota koperasi kepada Aini dan Aryo, suaminya yang duduk diam bagai terdakwa.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, beri kami waktu. Kami akan terus berusaha mengembalikan uang-uang itu, tapi tentu saja tidak bisa secepatnya,” ucap Aini sambil menunduk menahan malu.
“Ala… itu terus jawaban kalian. Dasar penipu, koruptor! Seharusnya kami sudah bisa terima pinjaman modal lagi. Tapi gara-gara kalian memakai uang cicilan kami, semua jadi macet,” gerutu yang lain.
Satu-persatu orang-orang itu pergi tanpa pamit dengan raut muka menahan marah dan umpatan yang menusuk hati.
Setiap keputusan aryo, selalu berujung Aini yang menjadi kambing hitam. Aini yang harus menghadapi orang-orang yang awalnya berurusan dengan suaminya dan bukan hanya  sekali dua kali hal ini terjadi.
“Bagaimana kalau aku ke Malaysia, Dik?” ucap Aryo begitu para penagih pergi.
“Biayanya?”
“Ya cari pinjaman?” jawab Aryo dengan enteng.
“Enak ya kalau omong? Siapa lagi yang mau percaya sama kita? Hutang kita sudah seleher Mas. Nanti, ujung-ujungnya seperti yang sudah-sudah. Berangkat modal hutang, belum balik modal udah kembali,” gerutu Aini kesal.
“Ya tidak lha, Dik.”
“Capek Mas dengar janjimu, lebih baik aku saja yang pergi. Bagaimana?”
“Kamu mau kemana?”
“Jadi TKW ke Taiwan, selain biaya gratis, dengar-dengar gaji di sana gede. Kalau kita tidak segera berusaha, kita makin susah, Mas. Anak-anak juga butuh biaya,” jawab Aini tanpa pikir panjang.
.
Aryo diam. Cara untuk mendapatkan uang sepertinya sudah buntu. Orang-orang tidak mungkin percaya lagi. Surat tanah pun sudah digadaikan Aryo untuk modal awal usaha.
Kini usahanya bangkrut dan masih ditambah hutang uang cicilan anggota koperasi yang dipercayakan kepada Aini sebagai pengurus untuk kemudian disetorkan ke bank. Yang pada akhirnya mereka ditagih, didamprat orang kesana kemari.
****
Akhirnya, Aryo menyetujui niat Aini jadi TKW. Pekerjaan yang tidak pernah Aini bayangkan sekalipun.
Menjadi pembantu di negara orang dengan segala perbedaannya. Hanya dengan modal  niat dan nekat.
Bersyukur, segala proses di PT berjalan lancar. Burung besi membawa Aini ke Taiwan. Hari-hari dilalui sebagai perawat orang tua. Kekuatan fisik, hati, dan iman benar-benar diuji.
Semua hanya demi hutang yang ingin segera Aini lunasi. Tidak mudah, karena gaji Aini juga untuk kebutuhan anak-anak. Sementara Aryo, semenjak Aini bekerja, selalu mencari alasan bila ditanya kemana penghasilannya habis.
“Mas, kalau semua kebutuhan rumah aku yang cukupi, terus uangmu untuk apa? Kamu kan kepala keluarga, Mas?” tanya Aini.
“Uangku ya untuk kebutuhan juga, Dik. Aku kan harus bayar cicilan motor juga.”
“Dari awal sudah kubilang, jangan kredit motor kalau hutang belum lunas. Apa kamu tidak malu dengan orang-orang yang duitnya kamu pakai? Utang belum lunas, sudah sok kredit motor,” gerutu Aini lewat telepon.
Di seberang sana, Aryo mendengar omelan Aini hanya nyengir.
Waktu terus berjalan, setengah kontrak kerja Aini lalui. Jangankan untuk menabung, hutang saja belum lunas semua. Tetapi kabar miring tentang suaminya mulai berembus. Kedua anak mereka yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA pun mengeluhkan sikap bapaknya.
“Bu, aku malu sama tetangga, sama orang kampung. Semua orang mengatakan bapak punya selingkuhan,” keluh putra sulungnya.
“Apa kamu tahu sendiri?”
“Aku belum tahu sih, tapi bapak sekarang sering tidak pulang. Tidak tahu nginap dimana.”
“Nanti biar ibu yang tegur bapak, ya. Kamu dan adik nggak usah ikut urusan orangtua. Yang penting sekolah, mengaji, jangan bolong sholatnya.”
Bukan hanya anaknya yang mengadu, saudara-saudara Aini, teman, juga mengetahui perselingkuhan Aryo dan sering melihatnya berboncengan dengan perempuan itu.
Pertengkaran lewat telepon tidak bisa dihindari. Aryo mengakui kesalahannya, meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Kembali  Aini memaafkannya, demi menjaga keutuhan rumah tangga yang di bina hampir 20 tahun.
Namun…hal yang sama terjadi lagi beberapa bulan kemudian. Kala sakit hati Aini belumlah sembuh, Aryo sudah melupakan janjinya. Yang lebih parah lagi, dia berani membawa pulang perempuan selingkuhannya.
Anak-anak yang telah tumbuh remaja bertambah muak dengan bapaknya sendiri.
Satu hal yang membuat Aini tidak bisa apa-apa, karena mereka masih menumpang di rumah orangtua Aryo. Aryo yang menjadi anak kesayangan, seolah punya kekuasaan lebih.
“Apa kamu sudah tidak menganggap aku isterimu, Mas? Hingga separah itu kelakuanmu,” ungkap Aini lewat telepon.
Aryo tidak menjawab.
“Kalau memang kamu sudah tidak mau lagi denganku, lebih baik urus surat cerai, biar kamu bebas mau ngapain,” kata Aini dengan nada keras.
“Walaa… kamu ini cerewet, aku ini lelaki normal. Masa suruh nunggu kamu pulang?” jawab Aryo tanpa rasa bersalah.
“O… jadi itu alasannya? Baiklah, kalau begitu pilih salah satu, aku atau dia. Aku sudah capek-capek kerja buat bayar utang-utang kamu, kok masih kamu bikin sakit hati. Orang sabar ada batasnya.”
Amarah Aini tidak lagi terbendung. Rasanya, memaafkan Aryo sudah tidak ada gunanya lagi. Hutang-hutang karena keteledoran Aryo sudah Aini yang tanggung, bukannya malu sebagai kepala keluarga yang gagal, justru bikin ulah.
Pertengkaran pun tidak ada penyelesaiannya, karena Aryo dan perempuannya sudah seperti surat dan perangko, lengket.
Kali ini perceraian tidak bisa dihindari.
“Bu, kenapa mesti cerai? Aku dan adik bagaimana? Aku gak mau ikut bapak dan serumah dengan perempuan itu,” kata si sulung lewat telepon.
“Maafkan ibu, Nak. Ibu juga tidak mau di madu, sedang bapakmu sudah tidak bisa dipisahkan dengan perempuan itu. Ibu sebentar lagi pulang. Bertahanlah beberapa bulan saja, atau kalian ikut tante,” jawab Aini.
“Aku malas pulang. Setiap kali pulang, setiap kali lihat bapak dan perempuannya, hatiku sakit, Bu.”
“Sama. Biarpun ibu belum melihat langsung, hati ibu lebih sakit. Tapi, kita harus tetap kuat. Kita buktikan kepada bapakmu, kita bisa hidup tanpa dia. Ingat! Jadikan pula ini contoh yang tidak patut kamu tiru. Jangan seperti bapakmu, bila kelak kamu menikah.”
Hanya berjarak satu bulan dari perceraian yang diurus sendiri oleh Aryo, terdengarlah kabar Aryo mau merayakan pernikahannya dengan perempuan itu.
Ternyata memang Aryo tidak main-main. Aryo tak mau tahu perasaan anak-anaknya. Acara syukuran pernikahannya mengundang orang-orang kampung.
Semua berakhir, rumah tangga yang dibina hancur. Istri yang berjuang untuk melunasi hutang-hutang demi keluarga akhirnya tersia-sia, tercampakkan.
Di setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia, semua karena kehendak Yang Kuasa. Ada luka di hati Aini, namun ada pula rasa bangga dan syukur, karena dia telah berusaha untuk tidak memberi beban hutang itu kepada anak-anaknya dan yang pasti masih memiliki  cinta dari buah hatinya yang tidak akan habis sepanjang masa.
***Tamat***
Cerita ini berdasarkan kisah nyata. Yang ditulis penulis atas permintaan nara sumber.
telegram